kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.920
  • EMAS706.000 0,71%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Skema impor 1:5 bisa merugikan feedloter


Senin, 27 November 2017 / 05:45 WIB

Skema impor 1:5 bisa merugikan feedloter

Dua orang petugas melakukan perawatan jaringan listrik di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Desa Kuta, Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Selasa (7/11). PLN melakukan pembangunan kelistrikan untuk mendukung KEK Mandalika yang dilakukan secara bertahap, dengan tahap awal pembangunan Gardu Induk berkapasitas 30 Megavolt Ampere (MVA) di daerah Kuta serta pada tahun 2019 sistem kelistrikan Lombok akan mendapat tambahan daya sebesar 150 MW dari Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Lombok Peaker. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/foc/17.


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah telah menetapkan skema impor 1:5 untuk sapi bakalan. Artinya, untuk setiap impor sapi bakalan sebanyak 5 ekor, maka pengusaha harus menyediakan 1 ekor sapi indukan.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), Rochadi Tawaf berpendapat kebijakan ini dapat merugikan feedloter. Pasalnya, waktu penjualan dua jenis sapi tersebut berbeda. Sapi bakalan hanya membutuhkan waktu 3 bulan penggemukan hingga dijual, sementara sapi indukan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Dia menjelaskan, bila feedloter memiliki kapasitas kandang 10.000 ekor sapi, maka dalam 1 tahun ketika feedloter mengimpor sapi bakalan 3-4 kali, maka kandang-kandangnya telah dipenuhi oleh sapi indukan.

"Tahun kedua dia sudah tidak bisa beriperasi. Pemeliharaan bibit itu rugi, khususnya dalam pembesaran," ujar Rochadi kepada KONTAN, Minggu (26/11).

Rochadi mengatakan, proses pembesaran sapi mulai dari bunting sampai melahirkan harus dilakukan di padang pengembalaan. Karena itulah biaya yang dikeluarkan dapat ditekan.

Dia pun menutirkann proses pembesaran yang dilakukan di kandang secara intensif seperti sekarang ini justru melanggar norma bisnis. Pasalnya terdapat tiga bagian dalam bisnis sapi, terdapat peternakan breeding (pembiakan), rearing (pembesaran/pemeliharaan), serta penggemukan.

"Itu norma bisnis yang diatur sedemikian rupa. Sekarang sapi yang harusnya di tempat pengembalaan harus dimasukkan ke kkandang sapi yang sempit yang terjadi adalah biaya produksi menjadi sangat tinggi," tambah Rochadi.

Rochadi mengkhawatirkan, bila kwbijakan ini terus dibiarkan maka akan ada penurunan populasi sapi lantaran adanya pemotongan sapi betina produktif. Tak hanya itu, impor daging pun akan meraja lela karena masyarakt lebih bergantung pada impor daging.

Dia pun mengatakan, saat sebuah negara lebih banyak mengimpor daging, maka tidak akan nilai tambah yang didapatkan.


"Impor sapi bakalan masih bagus karena ada pupuk dari sini, tenaga kerja dan lainnya. Kalau hanya daging, tidak ada nilai tambah untuk kegiatan ekonomi di Indonesia. itu akan memberikan kondisi yang berbahaya," jelas Rochadi.

Menurut Rochadi akan lebih baik bila skema impor menggunakan kemitraan yang intensif. Dia mencontohkan skema impor yang bukan berdasarkan volume impor melainkan kapasitas kandang.

Misalnya 20% dari kapasitas kandangnya digunakan untuk proses breeding sementara 80% untuk penggemukan.


Reporter: Noverius Laoli
Editor: Dessy Rosalina
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0737 || diagnostic_web = 0.3349

Close [X]
×