Reporter: Hervin Jumar | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah mengklaim memiliki bantalan stok beras yang jauh lebih kuat menjelang musim kemarau 2026.
Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dilaporkan telah menembus 4,3 juta ton, seiring lonjakan serapan produksi dalam negeri pada kuartal pertama tahun ini.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyebut kondisi stok saat ini menjadi yang tertinggi dan diproyeksikan terus meningkat dalam waktu dekat.
Pemerintah memperkirakan jumlah cadangan bisa melampaui 5 juta ton pada April 2026.
Baca Juga: Pasokan Pangan Pascalebaran Terjaga, Stok Beras Bulog Tembus 3,7 Juta Ton
“Dari sisi stok, hari ini tertinggi, 4,3 juta ton. Bulan depan bisa di atas 5 juta ton. Artinya, persiapan kita jauh lebih baik,” ujar Amran dalam keterangan resmi, Selasa (31/3/2026).
Lonjakan stok ini ditopang percepatan penyerapan beras dari produksi domestik. Hingga akhir Maret 2026, realisasi serapan telah mencapai sekitar 1,3 juta ton, bahkan berpotensi menembus 2,3 juta ton apabila tren berlanjut pada April.
Bapanas mencatat, total serapan setara beras sepanjang kuartal I-2026 telah mencapai 1,39 juta ton. Angka ini melesat tajam dibanding periode yang sama dalam beberapa tahun terakhir.
Pada kuartal I-2020, misalnya, serapan hanya sekitar 90.100 ton, sementara pada 2021 sebesar 234.600 ton. Adapun pada periode 2022 hingga 2025 masing-masing tercatat 64.000 ton, 94.300 ton, 35.000 ton, dan 719.300 ton.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan capaian ini sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah. “Belum pernah dalam tiga bulan penyerapan bisa mencapai 1,3 juta ton. Ini yang tertinggi,” sebutnya.
Baca Juga: Bulog Stok Pangan 3X Lipat di Wilayah Bencana Sumatra, Aceh Pegang 64.889 Ton Beras
Pemerintah menilai penguatan stok ini menjadi kunci untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga saat kemarau mulai berlangsung pada April. Selain itu, peningkatan serapan juga disebut berdampak positif terhadap kesejahteraan petani.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan indeks harga yang diterima petani padi sempat mencapai puncak tujuh tahun terakhir pada September 2025 di level 146,28. Per Februari 2026, indeks tersebut masih bertahan tinggi di 144,84.
Di sisi hilir, tekanan harga beras relatif terkendali. Inflasi beras bulanan pada Februari 2026 tercatat 0,43%, lebih rendah dibanding lonjakan pada Februari 2024 yang sempat menyentuh 5,28%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













