kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.554.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.020   18,00   0,10%
  • IDX 5.274   -5,00   -0,09%
  • KOMPAS100 679   -0,46   -0,07%
  • LQ45 531   0,83   0,16%
  • ISSI 179   -0,44   -0,25%
  • IDX30 298   0,66   0,22%
  • IDXHIDIV20 391   1,37   0,35%
  • IDX80 78   0,10   0,13%
  • IDXV30 108   0,42   0,39%
  • IDXQ30 99   0,39   0,40%

Tak Hanya BEV, Kemenperin Usulkan Insentif Mobil Hybrid hingga REEV


Rabu, 21 Oktober 2026 / 13:27 WIB
Tak Hanya BEV, Kemenperin Usulkan Insentif Mobil Hybrid hingga REEV
ILUSTRASI. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji (Dok/Kemenperin)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID  - JAKARTA. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong perluasan insentif industri otomotif. Tak hanya kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV), pemerintah juga mengusulkan insentif untuk kendaraan hybrid, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), dan range extended electric vehicle (REEV).

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan, usulan insentif tersebut mencakup insentif fiskal dan nonfiskal. Pembahasan insentif otomotif ini kembali didorong setelah sebelumnya belum mendapat kepastian.

"Ya, kita akan usulkan fiskal dan nonfiskal. Meskipun tidak harus sama dengan BEV. Mungkin ya, yang penting ada insentif," ujar Sarmuji kepada wartawan usai menerima audiensi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Baca Juga: Kemenperin Targetkan Kepastian Insentif Otomotif Rampung Tahun Ini

Untuk insentif fiskal, Sarmuji belum merinci besaran maupun sumber anggaran yang akan digunakan. Ia menegaskan, skema insentif untuk kendaraan hybrid, PHEV, dan REEV akan dibedakan dari insentif yang sebelumnya diberikan untuk kendaraan BEV.

Sementara itu, insentif nonfiskal dapat berupa kemudahan administrasi, pengecualian dari aturan ganjil-genap di sejumlah kota, hingga fasilitas parkir khusus dan pengisian daya. Bentuk fasilitas tersebut dapat menyerupai insentif yang diberikan kepada kendaraan BEV, meski tidak harus sama.

Menurut Sarmuji, pemberian insentif diperlukan untuk mendorong pertumbuhan industri otomotif sekaligus mempercepat pengembangan kendaraan berbasis elektrifikasi.

"Meskipun tidak harus sama dengan BEV. Mungkin ya yang penting ada insentif. Yang penting ada insentif sehingga industri ini juga tumbuh karena manfaatnya juga sama-sama dirasakan baik untuk masyarakat maupun negara," katanya.

Sarmuji menilai kendaraan hybrid, PHEV, dan REEV memiliki keunggulan dari sisi kesiapan industri. Pasalnya, kendaraan tersebut masih menggunakan mesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE), selain mengadopsi teknologi elektrifikasi.

Dengan karakter tersebut, industri otomotif dinilai tidak perlu mengubah seluruh struktur produksi dan komponen yang telah berjalan untuk mengikuti perkembangan kendaraan elektrifikasi.

Baca Juga: PTPN I Gelontorkan Rp 26,76 Triliun untuk Hilirisasi Perkebunan

"Kalau yang plug-in maupun yang hybrid biasa, maupun yang REEV, itu masih memakai baterai, tapi juga masih mesin, ICE-nya masih juga pakai. Jadi komponen-komponen yang sekarang produksi sekarang itu tidak perlu berubah secara total juga," ujar Sarmuji.

Ia menambahkan, momentum kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pengembangan industri kendaraan berbasis baterai dan elektrifikasi.

"Akan kita dorong secepatnya, mumpung ada momentum harga BBM lagi naik-naik ini, ada momentum kita untuk memperkuat industri berbasis baterai, tetapi dengan tadi dengan berbagai jenis tadi itu," katanya.

Sebelumnya, pemerintah telah membahas rencana pemberian kembali insentif bagi industri otomotif pada tahun ini. Wacana tersebut telah bergulir sejak semester pertama 2026, namun hingga kini belum mendapat kepastian mengenai skema maupun besaran insentif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×