kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Tangkal Kampanye Hitam Sawit Dengan Pengembangan Berkelanjutan


Senin, 31 Mei 2010 / 23:13 WIB


Reporter: Amailia Putri Hasniawati |

JAKARTA. Jika produksi sawit di pasar dunia meningkat, maka terbuka kemungkinan pasar minyak nabati dunia akan terdesak. Itu sebabnya, negara yang tak bisa menghasilkan minyak sawit akan membonceng LSM untuk membikin kampanye hitam.

“Biaya produksi sawit itu murah tetapi keuntunganya paling tinggi. Untuk itu kita harus menangkal kampanye negatif kelapa sawit dengan pengembangan sawit yang berkelanjutan,” kata Direktur Perlindungan Perkebunan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Herdrajat Natawidjaja.

Sawit memang tanaman yang sangat kompetitif. Dari sisi produktivitas, sawit mampu memproduksi 4 ton per hektare, sedangkan kedelai hanya 0,4 ton per hektare. Dari sisi ongkos produksi, minyak sawit pun tergolong minim. Sawit hanya membutuhkan US$ 400 per hakter sedangkan kedelai US$ 600-700 per hektar.

Sawit tercatat berkontribusi menyerap tenaga kerja sebanyak tiga juta tenaga kerja dan pemasukan ke negara sebesar Rp 12miliar –Rp 13 miliar.

Menurut data yang dirilis oleh Ditjen Perkebunan, saat ini lahan kelapa sawit seluas 7,3 juta hektare dari total tersebut sebanyak 40% berupa perkebunan rakyat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×