Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri kelapa Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menciptakan nilai tambah seiring meningkatnya permintaan global terhadap produk berbasis kelapa.
Peluang tersebut terbuka melalui penguatan hilirisasi, diversifikasi produk, hingga perluasan pasar ekspor.
Perusahaan teknologi pemrosesan dan pengemasan makanan, Tetra Pak, melihat perkembangan tersebut sebagai peluang bagi pelaku industri untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menghasilkan produk kelapa dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Baca Juga: MR.DIY Kejar Target Buka 270 Toko Tahun Ini
Processing Director Malaysia, Singapore, Filipina & Indonesia (MSPI) Tetra Pak Hemang Dholakia mengatakan, pengembangan industri kelapa tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi bahan baku.
Menurut dia, pengolahan di sektor hilir menjadi kunci untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas tersebut.
"Tetra Pak telah bekerja sama dengan para produsen kelapa di Indonesia selama hampir 40 tahun, membantu mereka menghadapi berbagai kompleksitas dalam pengolahan kelapa dan mengubah bahan baku menjadi produk yang aman dan berkualitas tinggi, sehingga mampu bersaing di pasar domestik maupun internasional," ujar Hemang dalam keterangannya, Kamis (3/9/2026).
Dia mengatakan, seiring fokus Indonesia meningkatkan produktivitas kelapa di tingkat pertanian, terdapat peluang besar untuk menciptakan nilai tambah bagi perekonomian dan pelaku usaha melalui hilirisasi yang efisien.
Peluang tersebut dapat dikembangkan melalui penerapan teknologi pengolahan, inovasi produk, diferensiasi, serta solusi pengemasan yang memungkinkan produk kelapa Indonesia masuk ke pasar ekspor.
Baca Juga: Perilaku Konsumen Berubah, Begini Proyeksi Bisnis Apotek Kalbe (KLBF)
Potensi Produksi Kelapa
Indonesia saat ini memproduksi sekitar 2,132 juta ton kelapa per tahun. Namun, produktivitas nasional diperkirakan baru sekitar 1,1 ton per hektare per tahun, jauh di bawah potensi produksi yang dapat mencapai 3,5-5 ton per hektare.
Tantangan lainnya adalah struktur industri kelapa yang didominasi petani skala kecil. Sekitar 98% perkebunan kelapa Indonesia dikelola oleh petani kecil.
Kondisi tersebut membuat peningkatan produktivitas di sektor hulu sekaligus penguatan industri pengolahan menjadi penting untuk memperbesar nilai ekonomi yang dihasilkan dari komoditas kelapa.
Peluang hilirisasi juga semakin terbuka setelah pemerintah mengumumkan pengembangan 151.554 hektare kawasan hilirisasi kelapa yang tersebar di 28 provinsi pada Juli 2026.
Pengembangan kawasan tersebut menunjukkan upaya pemerintah memperkuat rantai nilai industri kelapa, mulai dari produksi bahan baku hingga pengolahan dan pemasaran produk bernilai tambah.
Bagi industri pengolahan dan teknologi pangan, perkembangan ini berpotensi menciptakan permintaan terhadap teknologi yang mampu meningkatkan kapasitas produksi, menjaga kualitas, sekaligus memperpanjang masa simpan produk.
Baca Juga: Kalbe Farma (KLBF) Optimistis Bisnis Tetap Tumbuh hingga Akhir Tahun, Ini Penopangnya
Pasar Produk Kelapa Makin Beragam
Selain meningkatkan efisiensi produksi, diversifikasi produk menjadi peluang lain yang dapat mendorong pertumbuhan industri kelapa Indonesia.
Tetra Pak mencatat minuman kelapa hybrid ready-to-drink (RTD) yang mengombinasikan air kelapa dengan kategori lain seperti teh, kopi, minuman energi, dan minuman olahraga mencatat pertumbuhan tahunan gabungan atau CAGR sebesar 42% secara global pada periode 2022-2025.
Tren tersebut menunjukkan bahwa kelapa tidak lagi hanya dipasarkan sebagai bahan baku atau produk konvensional, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk minuman dengan segmen dan momen konsumsi yang lebih luas.
Di pasar Indonesia, peluang juga terbuka pada produk santan kemasan. Perubahan pola konsumsi masyarakat, urbanisasi, pertumbuhan e-commerce, serta ekspansi ritel modern mendorong kebutuhan terhadap bahan pangan yang praktis dan memiliki kualitas lebih konsisten.
Pasar santan Indonesia diperkirakan mencatat CAGR sebesar 10,58% pada periode 2025-2030.
Peralihan dari santan curah menuju produk kemasan dapat menjadi salah satu peluang bagi produsen untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memenuhi kebutuhan konsumen terhadap aspek keamanan, kepraktisan, dan konsistensi produk.
Baca Juga: Gaikindo: E20 Belum Bisa Digunakan Sebagian Besar Merek Kendaraan
Teknologi Jadi Faktor Penting
Namun, pengembangan produk berbasis kelapa memiliki tantangan tersendiri karena karakteristik bahan bakunya yang cukup kompleks.
Produk kelapa rentan terhadap perubahan kimia dan biokimia, sementara air kelapa sensitif terhadap paparan oksigen setelah kemasan dibuka.
Karena itu, teknologi pemrosesan dan pengemasan menjadi faktor penting untuk menjaga cita rasa, kualitas, serta kandungan nutrisi produk selama proses produksi hingga distribusi.
Tetra Pak menawarkan teknologi pengolahan dan pengemasan untuk membantu produsen mengatasi tantangan tersebut.
Salah satunya melalui AirTight separator yang dirancang untuk mencegah masuknya udara ke dalam proses pengolahan.
Teknologi tersebut dapat mendukung kualitas produk dan efisiensi proses pemisahan sekaligus membantu mengurangi konsumsi energi.
Tetra Pak juga mengembangkan teknologi Direct UHT (DUHT) untuk pengolahan air kelapa dan santan. Teknologi ini ditujukan untuk membantu mempertahankan kesegaran produk selama masa simpan yang lebih panjang.
Jika dikombinasikan dengan kemasan karton aseptik, solusi tersebut dapat menghasilkan masa simpan produk hingga satu tahun tanpa penggunaan bahan pengawet. Kondisi ini berpotensi memperluas jangkauan distribusi produk kelapa, termasuk ke pasar ekspor.
Baca Juga: Surplus Dagang Indonesia Capai US$ 3,7 Miliar, China Jadi Sumber Defisit Terbesar
Selain teknologi produksi, Tetra Pak juga menyediakan fasilitas Customer Innovation Centre (CIC) dan Product Development Centre (PDC) yang memungkinkan produsen menguji serta mengembangkan konsep produk sebelum masuk ke tahap produksi komersial.
Bagi produsen kelapa Indonesia, pengembangan teknologi tersebut dapat menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan skala produksi sekaligus menciptakan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Dengan potensi produksi kelapa yang besar, agenda hilirisasi pemerintah, serta pertumbuhan permintaan produk berbasis kelapa, industri ini berpeluang menjadi salah satu sektor yang dapat memperkuat rantai nilai agroindustri Indonesia.
Tetra Pak menilai kombinasi antara peningkatan produktivitas bahan baku, teknologi pengolahan, inovasi produk, dan pengemasan dapat menjadi faktor penting untuk mengubah potensi komoditas kelapa menjadi nilai ekonomi yang lebih besar bagi produsen dan masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














