Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai penerapan bahan bakar bioetanol perlu mempertimbangkan kesiapan teknologi kendaraan. Sebagian besar merek kendaraan yang beredar saat ini tercatat belum bisa langsung mengadopsi bahan bakar dengan campuran bioetanol 20% (E20).
Sekretaris Kompartemen Pengembang Industri Gaikindo, Abdul Rohim menyampaikan, pihaknya terus mendukung kebijakan pemerintah dalam program mandatori biofuel. Dukungan tersebut diwujudkan melalui perumusan spesifikasi teknis hingga keikutsertaan aktif dalam rangkaian pengujian kendaraan di lapangan.
"Untuk biodiesel, Gaikindo bersama-sama stakeholder lain, support pemerintah dalam menjalankan program mandatori biodiesel dengan aktif memberi masukan perumusan spesifikasi bahan bakar, metode evaluasi, baik statis dan dinamis, sampai berpartisipasi pada road test dari B20 sampai B50 saat ini," ujarnya dalam acara IndoEBTKE ConEx 2026, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Baca Juga: Surplus Dagang Indonesia Capai US$ 3,7 Miliar, China Jadi Sumber Defisit Terbesar
Rohim menjelaskan, implementasi campuran bahan bakar harus menyesuaikan dengan kondisi teknologi mesin saat ini. Penyesuaian spesifikasi penting agar masa transisi tidak menimbulkan dampak negatif pada kendaraan dan dapat diterima masyarakat secara luas.
"Sebagian besar brand saat ini sudah bisa menggunakan sampai E10 tanpa adanya perubahan atau modifikasi yang signifikan. Sedangkan untuk E20, sebagian besar brand saat ini belum bisa menggunakan campuran etanol 20% atau E20 dikarenakan banyak komponen yang harus diubah atau dimodifikasi agar bisa comply dengan E20," ungkapnya.
Rohim merekomendasikan agar pemerintah melakukan pengujian komprehensif sebelum meluncurkan mandatori bioetanol di atas 5%. Selain itu, pemberian jeda waktu pengembangan yang cukup sangat dibutuhkan mengingat mayoritas kendaraan awalnya dirancang berbasis bahan bakar fosil.
"Sebelum menetapkan mandatori bioetanol lebih dari 5%, sebaiknya dilakukan pengujian dahulu, baik statis maupun dinamis, untuk membuat atau menetapkan spesifikasi ban bakar yang bisa diterima kendaraan yang sudah beredar saat ini. Dengan konfirmasi akhir berupa rotes yang diguti oleh seluruh stakeholder yang terkait," terangnya.
Di samping itu, Rohim menyarankan penggunaan teknologi bioetanol generasi kedua (2G) untuk menghindari konflik dengan kebutuhan bahan pangan, serta perlunya penyesuaian harga biofuel agar dapat bersaing.
Menurutnya, penetapan harga idealnya lebih rendah guna mengompensasi massa jenis (densitas) energi biofuel yang cenderung lebih rendah.
Baca Juga: Cuaca Kering dan Harga Pupuk Naik, Produksi Sawit 2027 Terancam Turun 2,9%
"Dikarenakan sifat dari biofuel memiliki densitas energi yang lebih rendah dari fosil fuel, yang akan berdampak pada performance dan fuel consumption, sehingga idealnya harga biofuel haruslah lebih rendah dari fosil fuel untuk mengkompensasi selisih dari konsumsi ban bakar dengan fosil fuel, terutama pada bahan bakar campuran tinggi bioetanol," katanya.
Lebih lanjut, Rohim menekankan pentingnya ketersediaan opsi bahan bakar murni serta kejelasan informasi di tempat pengisian bahan bakar. Langkah perlindungan dan sosialisasi masif diperlukan guna mencegah risiko kerusakan mesin akibat kesalahan pengisian oleh konsumen.
"Tetap disediakan bahan bakar fosil fuel murni atau E0 dan B0 untuk kendaraan yang tidak bisa menggunakan bahan bakar campuran tinggi atau kita sebut sebagai protection grid. Dan terakhir, menghindari salah pengisian bahan bakar terutama campuran tinggi biofuel perlu adanya tanda yang jelas dipasang di SPBU agar masyarakat tidak salah memilih atau mengisi bahan bakar," pungkasnya.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi mengatakan, program E20 bakal diimplementasikan dengan diawali pembahasan yang komprehensif.
"Kita melakukan kickoff program (E20) itu artinya kita masih diskusi dulu sama semua stakeholder untuk menentukan apa spek yang harus kita tentukan untuk dicampur ke bensin, itu ada spesifikasi khusus juga," katanya saat ditemui di JIExpo Kemayoran Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Baca Juga: Kembali Pasarkan Merek Semen Kujang di Jabar, Ini Alasan Semen Indonesia (SMGR)
Eniya mengungkapkan, setiap campuran untuk E10 maupun E20 bakal memiliki spesifikasi yang berbeda. Oleh sebab itu, diperlukan kajian yang mendalam sebelum penerapan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














