kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.624.000   -40.000   -1,50%
  • USD/IDR 17.800   35,00   0,20%
  • IDX 6.581   -19,09   -0,29%
  • KOMPAS100 857   -6,93   -0,80%
  • LQ45 650   -4,15   -0,63%
  • ISSI 229   -0,74   -0,32%
  • IDX30 364   -2,33   -0,64%
  • IDXHIDIV20 450   -1,92   -0,43%
  • IDX80 98   -0,77   -0,78%
  • IDXV30 124   -1,30   -1,04%
  • IDXQ30 116   -0,52   -0,45%

TPIA Investasikan US$ 800 Juta di Proyek CA-EDC, Perkuat Ketahanan Industri Nasional


Rabu, 02 September 2026 / 13:19 WIB
TPIA Investasikan US$ 800 Juta di Proyek CA-EDC, Perkuat Ketahanan Industri Nasional
ILUSTRASI. Chandra Asri Pacific (TPIA) melalui Chandra Asri Alkali (CAA) bangun fasilitas ChlorAlkali–Ethylene Dichloride (CA-EDC) senilai US$ 800 juta (Chandra Asri Group/Chandra Asia Pacific (TPIA))


Reporter: Anna Suci Perwitasari | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) makin gencar ekspansi di sektor hilir industri kimia dalam negeri. Melalui anak usahanya, PT Chandra Asri Alkali (CAA), TPIA terus menggenjot pembangunan fasilitas ChlorAlkali–Ethylene Dichloride (CA-EDC).

Fasilitas CA-EDC yang dibangun oleh CAA ini merupakan proyek dengan nilai investasi mencapai lebih dari US$ 800 juta.

Ke depan, proyek ini akan mendapatkan dukungan investasi dari Danantara Indonesia dan Indonesia Investment Authority (INA) sebagai mitra strategis. Hingga Juli 2026, progres pembangunan telah mencapai 72% dan proyek ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2027 mendatang

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti mengatakan, pembangunan fasilitas CA-EDC memiliki arti strategis bagi struktur industri Indonesia. Yakni, peningkatan produksi domestik untuk bahan kimia krusial seperti soda kaustik dan ethylene dichloride (EDC). Hal tersebut dapat memperkuat ketahanan pasokan bagi industri nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber pasokan luar negeri.

Baca Juga: Kosmetik Wajib Bersertifikat Halal Oktober 2026, Baru 56% yang Tersertifikasi

“Kehadiran fasilitas ini dapat memperkuat substitusi impor untuk bahan kimia krusial seperti soda kaustik dan ethylene dichloride. Dengan meningkatnya produksi dari dalam negeri, ketahanan pasokan bagi industri domestik akan semakin kuat dan ketergantungan terhadap pasokan luar negeri dapat ditekan,” ujar Esther dalam rilis yang diterima KONTAN, Rabu (2/9/2026).

Signifikansi CA-EDC semakin besar karena produk yang dihasilkan merupakan bahan baku penting bagi berbagai sektor industri. Soda kaustik digunakan antara lain untuk produksi sabun dan deterjen serta pemurnian alumina. Sementara EDC menjadi bahan penting dalam industri kimia dan plastik.

Ketersediaan bahan baku tersebut di dalam negeri akan memberikan kepastian pasokan sekaligus memperkuat daya saing industri hilir.

Menurut Esther, dampak proyek CA-EDC juga tidak berhenti pada pengurangan impor. Fasilitas tersebut memiliki peran dalam mempercepat hilirisasi industri, karena produk yang dihasilkan menjadi bahan baku bagi berbagai industri, mulai dari sabun, deterjen, pemurnian alumina, kertas, hingga produk plastik dan konstruksi.

“Apabila rantai pasoknya juga melibatkan UMKM dan pelaku usaha lokal, multiplier effect-nya akan semakin besar, baik melalui penciptaan lapangan kerja maupun pembentukan ekosistem industri kimia yang lebih kuat,” ujarnya.

Dari sisi substitusi impor, produksi soda kaustik cair CA-EDC berpotensi menggantikan impor hingga 827.000 ton per tahun, dengan nilai sekitar US$ 293 juta atau setara Rp 4,9 triliun.

Sedangkan produksi EDC diarahkan untuk pasar ekspor dengan potensi menghasilkan devisa hingga US$ 300 juta atau setara Rp 5 triliun per tahun.

 

Kombinasi antara substitusi impor dan potensi ekspor tersebut menjadikan CA-EDC memiliki kontribusi strategis terhadap perekonomian nasional. Selain mengurangi kebutuhan Indonesia terhadap pasokan bahan baku dari luar negeri, proyek ini juga berpotensi menempatkan Indonesia pada posisi yang lebih kuat dalam rantai pasok industri kimia regional dan global.

Dampak ekonomi dari pembangunan proyek juga terlihat dari penyerapan tenaga kerja. Pada tahap konstruksi, CA-EDC telah melibatkan sekitar 3.000 tenaga kerja. Nah, saat beroperasi penuh, fasilitas ini diproyeksikan menciptakan sekitar 250 lapangan kerja baru.

Aktivitas proyek juga berpotensi mendorong pertumbuhan sektor pendukung, termasuk logistik, distribusi, penyimpanan, dan jasa industri.

Untuk memperkuat integrasi rantai pasok, Chandra Asri Group juga mengembangkan infrastruktur distribusi, penyimpanan, dan logistik yang mendukung CA-EDC. TPIA turut menyiapkan studi kelayakan CA-EDC Tahap II dengan estimasi investasi sekitar US$ 1 miliar, yang diarahkan untuk meningkatkan kapasitas sekaligus memperkuat ekosistem industri kimia nasional.

Baca Juga: Industri Tekstil Masih Tertekan, Utilisasi Produksi 60%-70%

Dengan demikian, nilai strategis CA-EDC tidak semata terletak pada pembangunan fasilitas produksi baru. Proyek dengan investasi lebih dari US$ 800 juta ini memiliki keterkaitan langsung dengan agenda yang lebih besar, yaitu memperkuat ketahanan bahan baku nasional, mengurangi ketergantungan impor, mendorong hilirisasi, menciptakan devisa, membuka lapangan kerja, serta membangun ekosistem industri kimia yang lebih terintegrasi.

Dalam perspektif tersebut, CA-EDC menjadi salah satu bagian penting dalam memperkuat fondasi industri nasional sekaligus mempertegas peran Chandra Asri sebagai pemain strategis dalam menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku bagi industri Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×