kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.843.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.921   -74,00   -0,44%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Trisula Textile (BELL) Optimalkan Momentum Lebaran dan Permintaan dari Segmen B2B


Selasa, 24 Maret 2026 / 19:28 WIB
Trisula Textile (BELL) Optimalkan Momentum Lebaran dan Permintaan dari Segmen B2B
ILUSTRASI. Proses Memasukkan Benang ke dalam Sisir Tenun di pabrik PT Trisula Textile Industries Tbk (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) berupaya mengoptimalkan momentum lebaran sembari menangkap peluang dari permintaan segmen Business-to-Business (B2B). Secara historis, Manajemen BELL mencatat bahwa momentum lebaran memberikan kontribusi positif bagi industri tekstil, khususnya pada segmen ritel.

Presiden Direktur Trisula Textile Industries, Karsongno Wongso Djaja mengungkapkan bahwa tren penjualan pada bulan ramadan menunjukkan peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya. BELL melihat perkembangan tren konsumsi pakaian saat lebaran, seiring preferensi masyarakat yang semakin beragam.

Selain itu, adanya periode libur setelah lebaran turut mendorong konsumen menyiapkan berbagai pilihan pakaian untuk beragam aktivitas, termasuk berlibur bersama keluarga. BELL menargetkan pertumbuhan untuk segmen ritel, terutama untuk produk-produk ritel dari brand JOBB dan Jack Nicklaus.

Baca Juga: Tiga Tahun Berjalan, Mind Id Mendorong Integrasi dan Hilirisasi Tambang

"Produk retail memang biasanya memiliki seasonality tren penjualan, dengan penjualan tinggi umumnya terjadi saat musim liburan, seperti Lebaran atau momen nataru (natal dan tahun baru)," ungkap Karsongno kepada Kontan.co.id beberapa hari lalu.

Supaya bisa menjangkau konsumen lebih luas, BELL mengoptimalkan berbagai kanal penjualan melalui brand JOBB dan Jack Nicklaus, yang saat ini didukung 211 Point of Sales (POS) di berbagai lokasi. BELL juga menawarkan berbagai program promo dan diskon sebagai bagian dari upaya memberikan nilai tambah bagi pelanggan, sekaligus mendorong pertumbuhan penjualan selama musim belanja.

Strategi dan Proyeksi Kinerja 2026

Secara keseluruhan, Manajemen BELL memproyeksikan kinerja segmen ritel akan tetap stabil pada tahun ini. Di sisi yang lain, BELL melihat potensi penguatan pada lini bisnis lainnya seperti manufaktur dan seragam, seiring dengan meningkatnya permintaan dari segmen B2B. 

"Perbaikan kinerja pada lini tersebut mulai terlihat pada periode Q4-2025 yang diharapkan dapat terus berlanjut dan memberikan dorongan positif bagi kinerja Perseroan pada awal 2026," ungkap Karsongno.

Dia menambahkan, BELL akan mendorong kinerja seluruh segmen melalui efisiensi dan optimalisasi produksi dalam upaya meningkatkan kinerja. Secara umum, anak usaha PT Trisula International Tbk (TRIS) ini mengusung tiga strategi.

Pertama, mengembangkan produk yang unik dan inovatif sesuai dengan kebutuhan serta preferensi pasar. Kedua, melakukan restrukturisasi dan modernisasi permesinan. Ketiga, memanfaatkan kapabilitas Trisula Innovation Center (TIC) serta memperkuat kolaborasi di dalam Trisula Group untuk mendorong sinergi bisnis dan membuka peluang pertumbuhan yang lebih luas.

Guna menopang strategi tersebut, BELL menyiapkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 21 miliar. Capex BELL tahun ini akan dialokasikan untuk restrukturisasi permesinan, optimalisasi proses, pengembangan dan efisiensi operasional melalui pemanfaatan teknologi yang lebih optimal, peningkatan otomatisasi dan ekspansi retail. 

Capex tersebut termasuk untuk pembukaan outlet baru retail JOBB dan Jack Nicklaus. "Seluruh investasi capex dirancang sejalan dengan arus kas Perseroan dan diarahkan untuk memberikan return yang terukur melalui peningkatan produktivitas dan penguatan fondasi bisnis jangka panjang," ungkap Karsongno.

Di sisi yang lain, BELL turut mencermati dampak dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mempengaruhi harga energi global. "Potensi ini dapat mempengaruhi biaya bahan baku dan produksi karena harga bahan baku dipengaruhi oleh minyak dan bahan bakar," ujar Karsongno. 

Meski begitu, BELL tetap optimistis bisa menumbuhkan kinerja dengan menjalankan berbagai strategi yang telah disiapkan. "Untuk tahun ini, Perseroan memproyeksikan pertumbuhan di kisaran high single digit, dengan optimisme kinerja dapat meningkat dibandingkan tahun sebelumnya," tutup Karsongno.

Baca Juga: H+1 Lebaran, Volume Kendaraan di Ruas Tol Astra Infra Melonjak Hingga 256%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×