: WIB    --   
indikator  I  

Bisnis jasa ekspedisi tersedak kepulan asap

Bisnis jasa ekspedisi tersedak kepulan asap

JAKARTA. Kebakaran hutan di kawasan Sumatera berimbas ke mana-mana, termasuk ke pebisnis distribusi barang. Lumpuhnya aktivitas pengiriman jalur udara memaksa perusahaan ekspedisi  harus menempuh jalur darat.

Untuk mengantarkan barang kiriman pelanggan, beberapa perusahaan ekspedisi bahkan sampai harus menurunkan armada dan pegawai tambahan. "Selain menggunakan kendaraan reguler, kami juga menggunakan armada sewaan," ungkap Haryanto, Direktur Utama PT Pos Logistik ke KONTAN, Senin (21/9).

Misal untuk mengirim logistik ke Pekanbaru, Pos Logistik mengalihkan pengiriman udara melalui Padang. Lantas melanjutkan lewat jalur darat dengan menggunakan dua truk berkapasitas 12 ton. Malah, untuk kondisi terparah, perusahaan ini bisa menyewa 20 truk - 30 truk.

Selain itu, anak usaha PT Pos Indonesia ini juga kudu menambah tenaga kerja akibat perubahan jalur pengiriman. Haryanto mengaku harus menanggung kerugian cukup besar akibat insiden asap kebakaran hutan tersebut.

Beruntung, kondisi saat ini sudah lebih baik ketimbang awal September lalu. "Untuk Jambi sempat tutup sampai 10 hari. Awalnya kami menunggu apa bisa selesai tapi ternyata berkepanjangan," keluhnya.

Sejauh ini, Pos Logistik masih belum menghitung total tambahan biaya yang sudah dikeluarkan. Ia pun mengaku belum menyiapkan dana khusus untuk mengantisipasi bencana asap tersebut.

Jasa ekspedisi 21Express juga mengalami hal serupa. PT Globalindo Dua Satu Ekspress, pengelola 21Express, sampai harus menambah armada. Untuk melayani pengiriman barang di cabang Pekanbaru, Jambi dan Palembang, perusahaan ini rata-rata menambah dua truk. "Kami tetap memakai jalur udara. Tapi untuk ke Pekanbaru melalui Palembang," ucap Eko Suprihantoro, Regional Manager PT Globalindo Dua Satu Ekspress.

Hingga ini, Globalindo berusaha mengoptimalkan pengiriman barang para klien. Bahkan untuk pengiriman vaksin,  perusahaan ini harus menyiapkan pendingin supaya kondisi vaksin tetap terjaga. Selain itu, Globalindo juga kerap mendapati fakta sang penerima barang tidak berada di tempat.

Uniknya, meski kondisi asap tahun ini lebih parah dari tahun lalu, animo konsumen mengirim barang tahun ini, menurut Eko, lebih banyak ketimbang tahun lalu. Namun, ia tidak merinci jumlah kiriman barang ke daerah yang terkena bencana asap.

Terlambat berhari-hari

Adapun, PT Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) terpaksa harus meniadakan layanan paket kilat esok sampai (YES) dan super speed (SS).

Muhammad Feriadi, Presiden Direktur PT Jalur Nugraha Ekakurir bilang, pihaknya tidak bisa menjanjikan konsumen, bisa mengirimkan barang sampai tempat tujuan dalam waktu sehari ke daerah bencana. Akibat insiden asap ini, keterlambatan pengiriman barang kerap terjadi. "Layanan premium ini pasti tidak bisa jalan. Bahkan bisa sampai beberapa hari," paparnya.

Manajemen JNE juga  masih  belum bisa menghitung total kerugian yang mereka alami akibat asap. Menurutnya biaya pengiriman tambahan semuanya ditanggung perusahaan dan tidak ada yang ditagihkan ke konsumen. Ia mengaku sudah menyiapkan dana ekstra untuk kejadian ini.

Layanan kargo maskapai Garuda Indonesia juga mengalami gangguan pengiriman barang via udara. Menurut  Hari Agung, Vice President Garuda Indonesia Cargo, akibat kabut asap kebakaran,  pengiriman kargo ke Pekanbaru dan Jambi sempat anjlok lantaran terjadi pembatalan penerbangan. Sama seperti instansi lain, Hari mengaku belum menghitung nilai kerugian dari efek asap ini.

Satu-satunya jasa pengiriman yang masih bisa menjalankan pengiriman dengan lancar adalah DHL Express.

Perusahaan ekspedisi multi nasional ini mengklaim masih bisa menjalankan pengiriman barang secara hati-hati. Perusahaan ini rupanya sudah menyediakan beberapa peralatan untuk antisipasi kabut asap seperti pemurnian udara di kantor cabang Pekanbaru. "Kalau kondisi membahayakan saya bilang tinggal di kantor. Pengiriman boleh dilakukan dengan hati-hati," ucap Ahmad Mohamad, Managing Director DHL Express.


Reporter Pamela Sarnia, RR Putri Werdiningsih
Editor Hendra Gunawan

DAMPAK KEBAKARAN HUTAN

Feedback   ↑ x
Close [X]