INDUSTRI
Berita
Dibutuhkan pasar kambing di Jakarta

PASAR TRADISIONAL

Dibutuhkan pasar kambing di Jakarta


Telah dibaca sebanyak 2610 kali
Dibutuhkan pasar kambing di Jakarta

JAKARTA. Meski pembangunan pasar tradisional terus menggelinding di Jakarta, namun ada yang lalai untuk dibangun; yaitu pasar ternak kambing. Padahal, menjelang Lebaran Haji atau Idul Adha, kambing merupakan salah satu ternak yang paling banyak diburu untuk kurban.

"Tahun 1960, Tanah Abang masih menjadi pusat pasar kambing. Namun setelah tahun 1980-an digusur tapi tidak diberi tempat yang baru lagi oleh pemerintah," kata Idrus Zein, Idrus Zein, Direktur Business Development Services (DBS) Harmoni, salah satu konsultan pedagang kambing di sekitar wilayah Tanah Abang, Selasa (21/9).

Menurut Idrus, pedagang kambing di Tanah Abang menggelar lapaknya secara informal karena lokasi berdagang sebelumnya sudah di sulap menjadi kios-kios modern di Blok A dan Blok F. Sayangnya, pedagang kambing tidak bisa membeli kios modern tersebut. Akhirnya, sebagian pedagang kambing yang masih bertahan akhirnya berdagang di lokasi yang tidak permanen. “Pemerintah dulu menjanjikan relokasi, namun tak kunjung dibangun sampai sekarang,” kata Idrus.

Sebanyak 38 pedagang kambing yang saat ini berdagang di Tanah Abang, menjual tak kurang dari 100 ekor per hari. Volume penjualan kambing ini akan meningkat menjelang Lebaran Haji karena pedagang kambing dari Jawa Barat dan Jawa Tengah berdatangan untuk menjual kambing.

Idrus menjelaskan, selain Tanah Abang, pasar kambing yang tercatat resmi di Jakarta adalah di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Namun, lokasi tersebut sulit dijangkau bagi pedagang dan pembeli yang berada di wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Barat. Karena itu, para pembeli lebih banyak berdatangan ke Tanah Abang.

“Kami sudah ajukan ke gubernur, dan beliau sekarang sedang menunggu kajian Amdal,” kata Idrus ketika ditanya soal rencana pembangunan pasar kambing tersebut. Kajian Amdal sangat penting, karena kambing termasuk kategori ternak yang dikhawatirkan bisa membawa penyakit hewan.

Idrus menilai, jika pembangunan pasar kambing di Tanah Abang tidak direalisasikan, maka dikhawatirkan pedagang kambing akan berjualan kambing di lokasi manapun, termasuk di pinggir jalan. “Karena pasar tidak ada, mereka akhirnya berjualan seperti pedagang kaki lima,” keluh Idrus.


Telah dibaca sebanyak 2610 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Risiko berbeda, premi tiap daerah seharusnya berbeda juga

    +

    Dalam uji coba pertama, Jasindo mengkover 600 hektare (ha) lahan dengan biaya premi Rp 100 juta.

    Baca lebih detail..

  • Agar sukses, perlu insentif bagi penyuluh lapangan

    +

    Program asuransi pertanian menjadi salah satu upaya pemerintah untuk melindungi petani dari efek perubahan iklim. Hanya saja masih banyak kekurangan yang ditemui, seperti kurangnya sosialisasi dan tidak adanya insentif bagi penyuluh pertanian lapa

    Baca lebih detail..