Reporter: Adhitya Himawan | Editor: Havid Vebri
JAKARTA. PT Dirgantara Indonesia menargetkan untuk menyelesaikan dua unit pesawat patroli maritim untuk TNI Angkatan Laut (AL) pada tahun ini. Penyelesaian dua pesawat ini untuk memenuhi total pesanan pesawat dari TNI AL yang jumlahnya mencapai lima unit.
Budi Santoso, Direktur Utama Dirgantara Indonesia optimistis pesanan ini bisa terpenuhi sesuai jadwal. "Dua unit lagi kami, akan kami selesaikan tahun ini," kata Budi Santoso saat dihubungi KONTAN, Senin (17/8).
Setelah menyelesaikan pesanan untuk TNI AL, rencananya PT Dirgantara akan mulai menggarap pesanan pesawat patroli sejenis untuk TNI Angkatan Udara.
Budi menjelaskan, untuk bikin satu unit pesawat pesanan TNI tersebut memang membutuhkan waktu yang cukup lama. "Waktu yang dibutuhkan 1 unit pesawat sekitar 18 bulan – 24 bulan," terang Budi.
Adapun pesawat patroli untuk TNI AL dan TNI AU itu merupakan hasil modifikasi dari pesawat CN 235. Salah satu modifikasi utama pesawat patroli maritim ini adalah, adanya penggunaan senjata meriam dengan peluru kaliber 20 milimeter (mm).
Karena hasil modifikasi, maka harga jual pesawat patroli maritim ini lebih mahal dari pesawat CN 235 yang dibanderol US$ 22 juta – US$ 23 juta per unit. "Soal detail harga tak bisa kami sebutkan," kata Irland Budiman, Kepala Humas Dirgantara Indonesia.
Perlu diketahui, pengerjaan pesawat patroli maritim merupakan bagian dari upaya pemerintah memaksimalkan potensi maritim. Masalah utama yang akan dihadapi pesawat patroli maritim adalah, pengawasan laut Indonesia dari aksi pencurian ikan.
Pemenuhan pesanan ini bisa memoles kinerja PT Dirgantara Indonesia yang sampai Juni 2015 masih payah. Penjualan Dirgantara Indonesia periode ini turun ketimbang periode sama 2014.
Namun penurunan penjualan dianggap lumrah lantaran kontrak pembelian pesawat banyak dilakukan di semester kedua dan diserahkan di semester pertama. "Kontrak pembelian pesawat tahun 2013 banyak yang serah terima di semester I-2014, makanya pesanan pesawat semester I-2014 terlihat banyak," terang Budi.
Sampai Juni 2015, penjualan pesawat PT Dirgantara Indonesia baru 25% dari target 2015 senilai US$ 480 juta. "Tahun ini sepertinya cukup berat tercapai," tandas Budi.
Saat ini, Dirgantara Indonesia fokus produksi pesawat terbang khusus dan pesawat terbang militer. Untuk produksi pesawat komersial, Dirgantara Indonesia hanya memproduksi pesawat kecil berkapasitas 50 - 60 orang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News