: WIB    --   
indikator  I  

ESDM kaji ekspor listrik ke ASEAN

ESDM kaji ekspor listrik ke ASEAN

JAKARTA. Negara-negara di Asia Tenggara (Asean) telah menyepakati untuk membentuk jaringan listrik bersama yang disebut Asean Power Grid (APG). Melalui APG, negara-negara di Asean bisa saling jual-beli listrik.

Wacana keikutsertaan Indonesia dalam APG pun dibahas kembali oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Direktur Jenderal Ketenagalistrikan bilang, Kementerian ESDM tengah membahas rencana Indonesia untuk melakukan ekspor listrik dari Kalimantan Timur.

Posisi Indonesia dalam AGP selama ini memang baru sebatas sebagai negara pengimpor listrik. Indonesia melalui Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah membeli listrik dari Serawak, Malaysia sekitar 200 megawatt (MW) dengan tarif US$ 7 sen per kwh. Listrik dari Malaysia ini pun digunakan untuk kebutuhan listrik di Kalimantan Barat.

Padahal menurut Jarman, Indonesia memiliki tiga titik yang termasuk dalam AGP yaitu Riau, Jawa Barat, dan Kalimantan Timur. Nah, titik jaringan listrik di Kalimantan Timur ini diharapkan bisa mengekspor listrik ke negara-negara Asean.

"Kalimantan Barat kan sudah beli kemarin dari PLTA Malaysia. Sekarang yang dibahas, kami ekspor ke sana dari Kalimantan Timur," kata Jarman pada Selasa (7/3).

Namun menurut Direktur Bisnis Regional Kalimantan PLN, Djoko Rahardjo Abumanan, jika Indonesia saat ini meneruskan koneksi ke jaringan listrik Asean lewat AGP maka besar kemungkinan Indonesia hanya akan menjadi pasar dari negara-negara Asean lainnya.

Sebab, posisi rasio elektrifikasi Indonesia saat ini memang masih tertinggal dengan negara-negara Asean lainnya. "Kita itu tertinggal rasio elektrifikasinya, kita benahi dulu di dalam," ujar Djoko, Rabu (8/3).

Djoko pun menargetkan jika rasio elektrifikasi Indonesia sudah mencapai 99% maka Indonesia sudah siap untuk masuk jaringan APG. Dalam perjanjian Power Exchange Agreement (PEA), Indonesia memang baru akan mengekspor listrik pada 2021 atau lima tahun sejak PEA ditandatangani pada 2016 lalu.

 


Reporter Febrina Ratna Iskana
Editor Rizki Caturini

PLN

Feedback   ↑ x