: WIB    --   
indikator  I  

Harga tambang naik, pebisnis siap tancap gas

Harga tambang naik, pebisnis siap tancap gas

KONTAN.CO.ID - Suasana hati pelaku industri pertambangan saat ini boleh jadi campur aduk, antara senang dan khawatir. Mereka senang lantaran harga jual menunjukkan tren kenaikan.

Namun di sisi lain ada kekhawatiran, tren tersebut tak akan berlangsung lama. Dari sejumlah komoditas tambang, batubara, emas dan nikel adalah contoh yang menunjukkan tren kenaikan harga itu.

Mengintip data Bloomberg pada Selasa (12/9), harga kontrak batubara di pasar ICE Futures Europe untuk pengiriman Oktober 2017 berada pada level US$ 98,10 per metrik ton.

Harga itu naik 29,42% dalam periode year to date (ytd) atau sejak akhir tahun lalu.

Masih dari sumber data yang sama, harga kontrak emas di CMX Commodity Exchange pada Rabu (13/9) yakni US$ 1.336,60 per ons troi. Harga tersebut tumbuh 14,66% dalam periode ytd.

Sementara harga nikel pada Selasa (12/9) bertengger di level US$ 11.913 per metrik ton. Harga itu mendaki 17,70% sejak akhir tahun 2016.

Ahmad Zaki Natsir, Hubungan Investor PT Samindo Resources Tbk, mengatakan, rentang harga batubara yang paling tepat untuk pembeli dan penjual yakni US$ 80-US$100 per metrik ton.

"Selama China mempertahankan tingkat produksi dan tidak membuka tambang baru, harga ini akan mampu bertahan hingga tahun depan," katanya saat dihubungi KONTAN, Selasa (12/9).

Selain faktor China, mega proyek setrum 35.000 megawatt (MW) juga menjadi katalis positif lain. Proyek itu akan meningkatkan konsumsi batubara domestik mulai lima tahun ke depan.

Tak cuma tahun ini, Eddy Porwanto, Chief Financial Officer PT Delta Dunia Makmur Tbk malah cukup yakin, tren kenaikan harga batubara akan bertahan sampai tahun depan. Merujuk pada harga kontrak batubara ke depan, ada potensi harga batubara bisa bertahan di atas level US$ 75 per metrik ton.

Buntut tren momentum baik harga batubara adalah sejumlah pelaku usaha mengaku berniat menambah luas area penambangan. Selain memacu produksi tambang yang sudah berjalan, Delta Dunia Makmur juga berencana membuka area tambang baru

PT Bukit Asam Tbk juga mempertimbangkan hal serupa. Meskipun, realisasi akuisisi tambang baru perusahaan tersebut bukan pada tahun ini.

"Ada beberapa tambang yang sedang due diligence," ungkap Adib Ubaidillah, Sekretaris Perusahaan PT Tambang batubara Bukit Asam (Persero) Tbk kepada KONTAN, Minggu (10/9).

Tak cuma perusahaan batubara, produsen emas dan feronikel PT Aneka Tambang (Persero) Tbk tampaknya juga cukup optimistis. Minimal, ini terlihat dari target volume produksi tahun 2017.

Dalam catatan KONTAN, target volume produksi mereka adalah 2.270 kilogram (kg) emas dan 24.100 ton feronikel. Sementara realisasi produksi tahun sebelumnya yakni 2.209 kg emas dan 20.293 ton feronikel.

Risiko tetap ada

Namun tren kenaikan komoditas pertambangan bukan tanpa risiko. Dampak positif faktor China terhadap harga batubara misalnya, hanya akan awet sejauh program pembatasan produksi tambang Negeri Panda masih berlangsung.

Sementara realisasi proyek listrik 35.000 MW tergantung pada pemerintah sebagai pemilik hajatan. Dus, Yulius Gozali, Direktur Keuangan & Hubungan Investor PT Indo Tambangraya Megah Tbk berharap agar proyek setrum pemerintah itu berjalan sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan.

Belum lagi persoalan curah hujan yang juga menjadi risiko penambangan. "Jika kita melihat ramalan dari BMKG, mulai akhir Oktober atau awal November Indonesia akan mulai mengalami musim hujan," kata Yulius kepada KONTAN, Rabu (13/9).


Reporter Agatha Claudia Pascal, Ivana Wibisono, Mila Sari, Pratama Guitarra
Editor Dessy Rosalina

KOMODITAS

Feedback   ↑ x
Close [X]