: WIB    —   
indikator  I  

Indo Tambangraya berburu ladang batubara baru

Indo Tambangraya berburu ladang batubara baru

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menambah sumber tambang batubara menjadi agenda utama PT Indo Tambangraya Megah Tbk hingga tahun depan. Maklum, dua dari enam ladang tambangnya bakal tutup operasi pada kuartal II 2018.

Kedua tambang tersebut masing-masing berada di bawah kelolaan PT Kitadin dan PT Jorong Barutama Greston. Asal tahu, Kitadin beroperasi secara komersial sejak Juli 1983. Perusahaan tersebut memiliki dua kuasa pertambangan yakni di Embalut dan Tandung Mayang di Kalimantan Timur.

Sementara Jorong Barutama beroperasi secara komersial sejak Oktober 1998. Lokasi penambangan di sebelah selatan Banjarmasin, ibukota Kalimantan Selatan.

Pada 24 September 2017 lalu, Indo Tambangraya sudah mengakuisisi 70% saham PT Tepian Indah Sukses. Nilai akuisisi saham tersebut sekitar US$ 9,5 juta.

Tepian Sukses adalah pemilik izin usaha pertambangan (IUP) lahan tambang batubara seluas 2.065 hektare (ha) di Kalimantan Timur. Lokasinya berdekatan dengan lokasi penambangan PT Trubaindo Coal Mining. Perkiraan sementara, Tepian Sukses memiliki cadangan produksi batubara sebanyak 4,7 juta ton.

Sejauh ini, lahan tambang Tepian Sukses masih mentah alias greenfield. Indo Tambangraya memperkirakan butuh waktu sekitar setahun untuk melakukan eksplorasi. Pasalnya, mereka masih harus melakukan joint ore reserves committee (JORC) untuk mengonfirmasi cadangan terbukti di dalamnya.

Namun begitu, Indo Tambangraya optimistis dengan perkiraan awalnya. "Resource-nya belum JORC tetapi kami confidentkarena berdempetan dengan tambang kami, jadi batubaranya sama, satu kesatuan dengan tempat kami itu," ujar AH Bramantya Putra, Direktur Operasi PT Indo Tambangraya Megah Tbk di Jakarta, Selasa (14/11).

Tak berhenti pada Tepian Sukses, Indo Tambangraya berencana mengakuisisi perusahaan pertambangan batubara yang lain. Bahkan, perusahaan berkode saham ITMG di Bursa Efek Indonesia itu mengincar lima sampai 10 perusahaan tambang.

Dalam kesempatan yang sama, Yulius Gozali, Direktur Keuangan sekaligus Investor Relation PT Indo Tambangraya Megah Tbk mengatakan, tujuan akuisisi tambang tidak hanya untuk menggantikan wilayah penambangan yang akan ditutup. Indo Tambangraya juga mengejar life of mine alias usia masa penambangan.

Dengan cadangan batubara sebanyak 190 juta ton saat ini, usia penambangan Indo Tambangraya hanya tujuh tahun. Padahal perusahaan tersebut ingin usia penambangannya mencapai 15 tahun.

 

Merevisi produksi

Meskipun kemampuan ekspansi masih besar, Indo Tambangraya tak kuasa melawan alam. Curah hujan yang tinggi memaksa mereka merevisi target volume produksi menjadi 22,6 juta ton batubara. Target produksi awal adalah 25 juta ton batubara. Hingga 30 September 2017, Indo Tambangraya memproduksi 16,5 juta ton batubara.

Meskipun target produksi terevisi, proyeksi penjualan Indo Tambangraya tak terganggu. Pasalnya harga jual batubara sedang menyenangkan. "Harga sembilan bulan itu sampai di level US$ 70 karena indeks bagus mendekati US$ 100, jadi kami memprediksi harga kami US$ 72-US$ 74 sampai akhir tahun 2017," kata Jusnan Ruslan, Direktur Marketing PT Indo Tambangraya Megah Tbk.

Sepanjang tahun ini, Indo Tambangraya menargetkan penjualan 23,5 juta ton batubara. Mereka sudah menjual 88% di pasar kontrak dan 10% di pasar spot. Dengan begitu Indo Tambangraya hanya perlu menjual 2% selebihnya.


Reporter Andy Dwijayanto
Editor Sanny Cicilia

TAMBANG DAN ENERGI

Feedback   ↑ x
Close [X]