INDUSTRI
Berita
Indofarma Raih Proyek Rp 1,6 Triliun

proyek e-catalog

Indofarma Raih Proyek Rp 1,6 Triliun


Telah dibaca sebanyak 647 kali
Indofarma Raih Proyek Rp 1,6 Triliun

JAKARTA. PT Indofarma (INAF) memenangi tender katalog elektronik (e-catalog) untuk 109 jenis obat generik senilai Rp 1,6 triliun. Angka ini sekitar 30% dari total nilai tender yang dilelang Kementerian Kesehatan.

Elfiano Rizaldi, Direktur Utama Indofarma mengatakan, total nilai proyek pengadaan e-catalog mencapai Rp 5 triliun hingga Rp 6 triliun. Jumlah obat generik yang ditender sebanyak 300 item sampai 350 item. Sekitar 20 pabrikan farmasi turut serta dalam tender itu. "Kami mendapat nilai yang terbesar," ujarnya, Senin (13/5). Dari proyek ini, Indofarma diperkirakan bisa memperoleh margin kotor sekitar 20%-25%.

Sekadar informasi, sistem e-catalog merupakan sistem informasi elektronik yang memuat informasi seputar obat generik yang dijual di Indonesia. Di dalamnya berisi daftar nama obat, jenis, spesifikasi teknis, harga, dan produsen.

John Sebayang, Direktur Keuangan Indofarma memperkirakan, pihaknya sudah bisa merealisasikan proyek e-catalog pada Mei-Juni 2013 mendatang sekitar Rp 100 miliar-Rp150 miliar. Dengan asumsi ini, pada semester I-2013, Indofarma mampu mengantongi penjualan senilai Rp 530 miliar.

Mengerek kinerja

Jika dibandingkan dengan pencapaian di periode yang sama tahun lalu, angka itu naik 30,95%. Adapun penjualan bersih INAF hingga akhir Maret 2012 sebesar Rp 404,72 miliar. BUMN farmasi ini juga memproyeksikan laba bersih menyentuh angka Rp 12 miliar, naik dari tahun lalu yang sebesar Rp 6,13 miliar.

Asal tahu saja, INAF mengalami kemerosotan kinerja pada kuartal I-2013. Indofarma membukukan kerugian bersih sebesar Rp 10,96 miliar. Padahal di kuartal I-2012, perusahaan ini mencetak laba bersih Rp 140,19 juta. Penjualan bersih juga menyusut dari yang sebelumnya Rp 168,82 miliar jadi Rp 123,44 miliar.

Untuk mendukung realisasi pengadaan obat generik, produsen farmasi pelat merah ini akan memaksimalkan kapasitas produksi pabrik. Tahun ini, INAF menyiapkan anggaran pembangunan pabrik senilai Rp 60 miliar.

Khusus investasi mesin, Indofarma mengalokasikan Rp 33 miliar. Perusahaan ini berharap investasi ini bisa mendongkrak kapasitas mesin minimal dua kali lipat. Menurut Elfiano, upaya peningkatan kapasitas pabrik akan berlanjut hingga 2014 mendatang. Adapun untuk tahun depan, ia memperkirakan, total investasi akan mencapai Rp 120 miliar. Perinciannya, sekitar Rp 85 miliar untuk membangun pabrik dan Rp 35 miliar untuk investasi mesin.

John bilang, hingga saat ini, dana yang sudah terealisasi sebesar Rp 13 miliar. "Dana itu untuk biaya regulasi dan bangunan," katanya. Ia merinci, sebesar Rp 11 miliar telah dikeluarkan untuk mesin dan pabrik, Rp 1 miliar untuk biaya regulasi, sisanya pengadaan alat-alat kantor. Indofarma akan mendatangkan mesin seperti mesin cetak tablet.

Menurut John, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang rencananya mulai efektif awal 2014 akan berdampak pada pesanan terhadap obat generik. "Peningkatan bisa dua hingga tiga kali lipat," tuturnya.

Untuk mengantisipasi hal itu, INAF gigih menggenjot kapasitas pabrik. Manajemen Indofarma menargetkan, total kapasitas produksi pabrik bisa mencapai 5,5 miliar unit tablet dan kapsul per tahun. Hingga akhir 2012, kapasitas produksi pabrik INAF mencapai 2,2 miliar unit tablet dan kapsul per tahun. 

Telah dibaca sebanyak 647 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS Update

  • Bisnis properti tiarap dulu

    +

    Industri properti menyambut 2014 dengan pesimistis.

    Baca lebih detail..

  • Mobil baru bermunculan kendati pasar stagnan

    +

    Pelemahan ekonomi membuat pasar otomotif tak melaju cepat.

    Baca lebih detail..