: WIB    --   
indikator  I  

Kiat peritel memindai calon konsumen potensial

Kiat peritel memindai calon konsumen potensial

JAKARTA. Selama delapan bulan terakhir, toko buku di Prancis diam-diam mengamati gerak-gerik pengunjung. Lewat kamera tersembunyi, toko ini mendeteksi ekspresi wajah konsumen.

Aksi memata-matai konsumen ini berbuah manis. Penjualan toko buku melonjak sepuluh kali lipat. Kok bisa? Saat kamera merekam konsumen berjalan ke rak dengan muka mengernyit, software sontak memberikan notifikasi ke pegawai untuk mendekati dan menolong. Hasilnya, konsumen yang semula hendak mengembalikan buku malah membeli. Keajaiban itu berkat software buatan Angus.ai itu.

Karena manfaatnya itu, sebagian besar peritel telah mengadopsi teknologi serupa untuk mendongkrak penjualan. Misalnya, jaringan toko Louis Vuitton (LVMH), Carrefour, dan Aroports de Paris.

Jaringan toko Mothercare di Tallinn, Estonia, juga memanfaatkan teknologi serupa buatan Realeyes. Startup asal London ini memberikan analisis kebahagiaan konsumen. Sebagai gambaran, pengunjung yang tertangkap kamera tersenyum terbukti merogoh kocek tiga kali lipat lebih besar ketimbang pengunjung lain.

Ada pula startup Wirelessly yang menganalisa irama jantung dari kamera yang menangkap gerakan dan panas tubuh dari smartphone konsumen. Jika irama jantung tak beratur, artinya khawatir. Bisa jadi, konsumen cemas karena terkejut melihat harga.

"Ini peluang bagi peritel fisik yang selama ini tergilas oleh penjual online. Semua berlomba mencari cara terbaik mengoleksi data emosi yang bisa memberikan rekomendasi kemasan, konten, bahkan waktu penjualan terbaik," ujar Rana June, CEO Lightwave seperti dilansir The Economist. Lightwave menjual data emosi konsumen ke PepsiCo, Procter & Gamble, dan Unilever.

Namun, Ricardo Gutirrez, Head of Shopper Insights Nielsen Kolombia menilai, analisis emosi konsumen itu belum teruji hasilnya. "Masih eksperimental," ujarnya.

Yang jelas, analisis emosi jauh lebih murah. Tarif Nielsen mewawancarai 25 konsumen soal tiga produk adalah US$ 10.000. Sementara, jasa Angus.ai hanya 59 per bulan per kamera. Data aktivitas otak dari iMotions yang dipakai Nestl dan Unilever hanya dijual US$ 15.000 ke klien.


Reporter Dessy Rosalina
Editor Yudho Winarto

RITEL

Feedback   ↑ x
Close [X]