kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.304
  • LQ451.124,28   -7,91   -0.70%
  • SUN105,38 -0,17%
  • EMAS590.870 0,52%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Operasi pasar belum efektif turunkan harga beras

Rabu, 10 Januari 2018 / 20:01 WIB

Operasi pasar belum efektif turunkan harga beras

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengamat pertanian Institut Teknologi Bogor (IPB), Dwi Andreas Harsono menilai, operasi pasar yang dilakukan saat ini belum efektif menurunkan harga beras.

Dia menilai, hal tersebut dikarenakan saat ini Indonesia tengah menghadapi mekanisme pasar, dimana pasokan dan stok pangan sangat terbatas. Padahal, menurutnya operasi pasar yang dilakukan sudah cukup gencar sejak Desember tahun lalu.

"Memang harga tidak naik dibandingkan November, tetapi operasi pasar dimaksudkan menekan harga sampai di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET). Sementara HET juga dipaksakan, dan harga sampai sekarang juga masih di atas HET,"ujar Dwi kepada Kontan.co.id, Rabu (10/1).

Dalam dua tahun terakhir, harga beras memang stabil tinggi. Berdasarkan pengamatan Dwi, di sejumlah kota kecil di Jawa, harga beras saat ini sudah melambung tinggi, yakni Rp 11.000-Rp 12.000 per kg.

Ini menunjukkan kondisi perberasan yang sangat rentan. Menurutnya, meskipun impor dilakukan saat ini, hal tersebut sudah terlambat.

Ïmpor itu harus diputuskan sejak Juli sehingga pengendalian harga dilakukan ketika barang sudah masuk, yakni pada Oktober. Sejak Juli sudah bisa dilihat tren produksi dan pergerakan harganya," ujar Dwi.

Dwi pun menjelaskan, saat ini data pangan hanya dimiliki oleh Kementerian Pertanian (Kemtan). Sementara, menurutnya data tersebut tidak bisa dipercaya untuk mengambil kebijakan. "Data yang bisa dipercaya saat ini adalah harga. Kemtan mengklaim produksi surplus, "padahal harga tetap tinggi,"ujar Dwi.

Dwi pun berpendapat, panen raya baru akan terjadi pada Maret hingga April, hal ini dikarenakan puncak panen dilakukan pada Desember lalu. Sementara, pada Oktober dan November terjadi pengurangan luas tanam sebesar 413.000 ha. Hal ini membuat luas panen pada Januari dan Februari turut berkurang.

Terkait data pangan ini, Dwi menyarankan supaya presiden membentuk unit khusus terkait data pangan sehingga presiden memiliki data alternatif untuk mengambil kebijakan.


Reporter Lidya Yuniartha
Editor : Yudho Winarto

BERAS

Berita terbaru Industri

Join the discussions
TERBARU
MARKET
IHSG
-19,84
6.615,49
-0.30%
 
US/IDR
13.321
0,02
 
KONTAN TV
Hotel Santika Premiere Slipi - Jakarta
26 February 2018 - 27 February 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy