: WIB    —   
indikator  I  

Operator telko bidik layanan pembayaran online

Operator telko bidik layanan pembayaran online

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gencarnya kampanye gerakan nasional non-tunai oleh pemerintah mulai berdampak pada perubahan pola belanja masyarakat dari konvensional menjadi transaksi virtual.

Adanya pergeseran pola perilaku konsumen dalam berbelanja ini membuka peluang bisnis baru yang lumayan menggiurkan. Apalagi didukung tingginya penggunaan ponsel pintar di masyarakat, plus akses internet yang semakin cepat.

Faktor ini yang mendorong sejumlah pelaku usaha dari mulai perusahaan rintisan atawa startup hingga operator telekomunikasi berlomba-lomba mengembangkan mobile financial services.

Salah satunya T-Cash yang berambisi menjadi layanan pembayaran online nomor wahid di Indonesia. Salah satu kunci bisnis ini adalah membangun ekosistem. Baik dari sisi kegunaan produk, misalnya di sektor transportasi, titik layanan (isi dan ambil saldo maupun pengembangan inovasi teknologi terbaru seperti QR Code dinamik dan fitur e-KYC; serta penambahan variasi layanan finansial, seperti asuransi, pinjaman dan sebagainya.

"Dengan strategi-strategi ini, kami percaya T-Cash terus meningkatkan pertumbuhan pengguna hingga mencapai 100 juta dalam 5 tahun ke depan, terang Danu Wicaksana, Chief Executive Officer T-Cash, Selasa (5/12).

Untuk memuluskan target tersebut, T-Cash akan mengembangkan jaringan pembayaran online yang inklusif alias menjangkau semua kalangan. Menurut Danu, sejak diperkenalkan tahun 2015 lalu, kesadaran masyarakat terhadap produk ini cukup baik.

Dari total pelanggan yang mencapai 10 juta, baru sekitar 40% sebagai pengguna aktif T-Cash. Sepanjang tahun 2017, T-Cash melayani sekitar 60 juta transaksi. Penggunaan rata-rata menghabiskan Rp 100.000–Rp 150.000 per bulan.

Agar lebih banyak menjaring banyak pelanggan, perusahaan ini bakal menggenjot penjualan melalui merchant payment. Kini, T- Cash sudah bermitra dengan 40.000 merchant di Indonesia.

Mulai tahun ini, T-Cash menyediakan layanan international remittance untuk memudahkan pengiriman uang dari TKI di Singapura ke Indonesia dengan biaya lebih murah.

Siap dirilis

Tak mau ketinggalan, PT Hutchison 3 Indonesia (Tri) saat ini tengah menyiapkan sistem pembayaran sejenis layanan financial technology.M Danny Buldansyah, Wakil Direktur Utama Tri Indonesia menuturkan, hingga saat ini proses tersebut sedang dalam proses. "Sedang diurus izinnya," sebutnya saat dihubungi KONTAN, Selasa (5/12).

Kalau tak ada aral melintang, online payment besutan Tri ini siap dirilis tiga bulan dari sekarang atau tahun depan setelah mengantongi izin dari Bank Indonesia. Sebelumnya, Tri sudah memiliki lini bisnis e-comerce, yakni &Co (And Co ) di aplikasi di Mall Online Bima+ yang menjalankan model bisnis C2C.

Danny pernah menyebut, kontribusi bisnis digital terhadap total pendapatan Tri masih dibawah 5%. Untuk mengembangkan layanan tersebut, perusahaan lantas membuat sistem pembayaran sendiri.

Meski demikian, layanan terbuka pelanggan tidak hanya akan digunakan untuk pembayaran produk &Co. "Banyak mitra-mitra yang lain," ungkap Danny.

Naga-naganya, XL Axiata siap meramaikan pasar mobile financial services. "Kami masih mengkaji secara mendalam tentang tren mobile financial service, termasuk semua opsi yang ada," aku General Manager Corporate Communication XL Axiata Tri Wahyuningsih.

XL belum menyebut nilai investasi untuk pengembangan bisnis tersebut. XL Tunai yang telah mengkaver lebih dari 200 merchant partner dengan jumlah merchant point lebih dari 24.000.

"Pencapaian terhadap target revenue sudah mencapai di atas 100%. Rata-rata transaksi lebih dari 120.000 transaksi per hari," sebut Ayu, panggilan Tri Wahyuningsih.

 


Reporter Ahmad Febrian, Klaudia Molasiarani
Editor Dupla Kartini

TELEKOMUNIKASI

Feedback   ↑ x