: WIB    —   
indikator  I  

Pemerintah: Harga LPG Nusagaz harus masuk akal

Pemerintah: Harga LPG Nusagaz harus masuk akal

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan rencana penjualan Nuzagaz, Liquefied Petroleum Gas (LPG) keluaran PT Sierra Nusa Gas anak usaha PT Vivo Energy Indonesia sah saja dilakukan jika memang sudah memenuhi segala syarat yang diajukan sesuai dengan standar penjualan LPG di dalam regulasi yang berlaku.

Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerjasama Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana bilang, jika sudah memenuhi standar baku yang ditetapkan maka selanjutnya produsen harus menetapkan harga yang sesuai dan fair bagi bisnis juga bagi masyarakat.

"Dirjen Migas (Ego Syahrial) sudah diskusi dan berikan arahan harga maunya Vivo seperti apa. Memang pemerintah belum bisa menetapkan harga karena di luar BBM penugasan, tapi yang pasti harganya harus fair, harus reasonable," katanya di Kantor Kementerian ESDM, Kamis (7/12).

Asal tahu saja, pihak Vivo selaku induk usaha dari Sierra Nusa Gas menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) LPG kemasan 4,5 kilogram seharga Rp 25.500, kemasan 8 Kg dengan harga Rp 56.000, kemasan 15 Kg seharga Rp 110.000 dan kemasan 60 Kg dengan harga Rp 460.000.

Dadan mengatakan, dengan adanya produk baru ini, secara langsung juga memberikan pilihan kepada masyarakat untuk mendapatkan bahan bakar lebih banyak, termasuk menciptakan harga bahan bakar yang kompetitif. Pemerintah kata Dadan, tidak akan menghalangi keterlibatan pihak-pihak lain terkait penyediaan energi asalkan telah memenuhi syarat baik regulasi bisnis maupun standar baku mutu keselamatan.

"Pak Menteri (Ignasius Jonan) menyampaikan kita dorong keterlibatan yang lain, hal baru tidak menghambat. Pemerintah mendorong tetap sesuai koridor peraturan. Kan yang penting ada standar keselamatan itu," ujarnya.

Selain itu adanya pemain baru dalam bisnis LPG juga tidak menutup kemungkinan adanya penekanan terhadap beban pemerintah dalam pengadaan LPG yang selama ini masih harus diimpor. "Iya (bisa turunkan beban) sekarang kan impor, kita concern juga kesitu," tandasnya.


Reporter Pratama Guitarra
Editor Sanny Cicilia

MINYAK DAN GAS

Feedback   ↑ x