: WIB    —   
indikator  I  

Perbaikan properti tak berdampak ke bisnis keramik

Perbaikan properti tak berdampak ke bisnis keramik

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri keramik memang memiliki pertalian dengan pertumbuhan properti. Namun tidak serta merta geliat sektor properti secara kilat mempengaruhi bisnis keramik.

Meski penyaluran kredit properti mulai deras, biasanya efek dari pertumbuhan properti mulai dirasakan industry keramik 3-4 bulan setelah groundbreaking unit properti tersebut. Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri keramik Indonesia (Asaki) Elisa Sinaga mengatakan sampai September 2017 permintaan keramik masih tidak banyak berubah, sehingga belum menggembirakan bagi produsen.

Menurut dia, pertumbuhan industri properti yang terjadi saat ini dinilai kurang signifikan.Belum lagi industri keramik lokal tergerus oleh produk impor yang trennya terus meningkat setiap tahun. Elisa mengatakan, tahun 2016 setidaknya jumlah keramik impor yang masuk ke Indonesia mencapai 50 juta meter persegi (m²).

Senada dengan Elisa, Chief Operation Officer (COO) PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) Edy Sujanto juga punya pendapat yang sama. Menurutnya Industri keramik secara umum sampai dengan kuartal ketiga tahun ini belum merasakan dampak langsung dari industry property.

“Saat ini kebanyakan masih didorong dari end user/konsumen langsung yang renovasi dan bangun rumah baru,” ungkapnya kepada KONTAN (8/10)..
Namun Edy optimis memasuki akhir tahun ini keramik masih berpeluang untuk tumbuh. Salah satu pendorongnya ialah proyek infrastruktur pemerintah. Namun begitu, bukan berarti pemain keramik melupakan segmen property.

“Produsen keramik sangat mengharapkan proyek-proyek properti menggunakan produk-produk keramik buatan dalam negeri,” sebut Edy. Juga harapan agar proyek-proyek pemerintah bisa diwajibkan menggunakan produk keramik dalam negeri.


Reporter Agung Hidayat
Editor Dessy Rosalina

INDUSTRI KERAMIK

Feedback   ↑ x
Close [X]