INDUSTRI
Berita
Permintaan tinggi, harga tuna terbang

HARGA TUNA

Permintaan tinggi, harga tuna terbang


Telah dibaca sebanyak 1948 kali
Permintaan tinggi, harga tuna terbang

JAKARTA. Saat hasil tangkapan menyusut, nelayan ikan tuna Indonesia masih bisa bernapas leba. Harga ikan tuna di pasaran semakin mahal. Peningkatan harga itu pula yang mampu mendorong pertumbuhan nilai ekspor, meski volumenya kecil.

Dwi Agus Siswa Putra, Sekretaris Jenderal Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI), mengatakan, hingga Oktober ini, harga ikan tuna terus naik. Harga ekspor tuna untuk FOB di Bali pada Oktober 2011 ini rata-rata mencapai US$ 6-US$ 7 per kilogram (kg). "Bandingkan dengan tahun lalu, harga rata-rata ekspor tuna hanya US$ 4,5-US$ 5 per kg," ujar Dwi, Selasa (25/10).

Eddy Yuwono, Ketua Asosiasi Tuna Indonesia (Astuin), menambahkan, harga tuna di pasar Jepang naik sekitar ¥ 100-¥ 200 per kg (1 ¥ = Rp 116,07) sejak setahun terakhir. Kenaikan harga itu dalam mata uang Yen, karena Jepang adalah pasar ekspor ikan tuna terbesar dari Indonesia. Sebanyak 76% ikan tuna Indonesia terjual ke Jepang, sedang sisanya ke Amerika dan Eropa.

Kenaikan itu terjadi pada semua jenis ikan tuna. Ia mencontohkan, untuk jenis tuna sirip biru yang tadinya ¥ 1800-¥ 2800 per kg, kini menjadi ¥ 2000-¥ 3000 per kg.

Kemudian, ikan tuna jenis mata besar, dari ¥ 500-¥ 1100 per kg, naik menjadi ¥ 700-¥ 1300 per kg, dan tuna tuna sirip kuning dari ¥ 300-1100 per kg meningkat jadi ¥ 500-1300 per kg.

Tak pelak lagi, kenaikan harga ini turut mendongkrak nilai ekspor tuna. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor tuna sepanjang Januari-Juli 2011 US$ 97,37 juta, naik 10,22% dari periode sama tahun 2010. Namun, secara volume, ekspor ikan turun 5,47% menjadi 21.352,12 ton.

Pertumbuhan nilai ekspor itu terutama karena terdorong penjualan tuna sirip kuning. Total nilai ekspor tuna sirip kuning mencapai US$ 46,79 juta, tumbuh 33,88%. Kemudian, juga terbantu dengan hadirnya tuna albacore US$ 278.271, periode sama tahun lalu produk ini belum laku.

Di ATLI, volume ekspor untuk tuna sirip biru per September tahun ini mencapai 312,15 ton. Sepanjang tahun 2010, eksspor tersebut 623,61 ton. Kemudian, ekspor tuna jenis mata besar 1.961,06 ton (tahun 2010 2.813,46 ton), sedangkan tuna sirip kuning 1.596,61 ton (2.554,84 ton).

Pasokan berkurang

Menurut Dwi, mahalnya harga tuna karena pasokan di pasar yang terbatas. Hal ini karena, jumlah tangkapan nelayan terus berkurang. Sayangnya, Dwi enggan menceritakan detail rata-rata hasil tangkapan nelayan.

"Dulu nelayan bisa berlayar hingga tiga bulan, tapi sekarang tidak bisa karena harga bahan bakar minyak (BBM) semakin mahal," keluh Dwi. Catatan saja, nelayan kini harus membeli minyak solar dengan harga yang sama oleh kalangan industri, yakni Rp 8.900 per liter.

Penurunan suplai ikan tuna juga terpicu oleh jumlah nelayan ikan tunayang semakin berkurang. ATLI mencatat, jumlah anggotanya tinggal berjumlah 671 nelayan. Tahun lalu, anggota ATLI mencapai 865 nelayan. "Mereka beralih menangkap ikan lain yang tidak membutuhkan waktu berlayar lama," jelas Dwi.

Eddy malah menghitung lebih sedikit lagi dari jumlah kapal. Menurutnya, tahun lalu, ada lebih dari 500 unit kapal penangkap tuna. Namun, kini tinggal 386 unit kapal saja. "Banyak nelayan yang tidak kuat menanggung biaya operasional yang mencapai Rp 1 miliar untuk sekali melaut," ujar Eddy.

Saut Hutagalung, Direktur Pemasaran Luar Negeri Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), mengatakan, nelayan juga terganggu cuaca yang buruk. Biasanya, masa panen ikan tuna berlangsung selama tiga hingga empat bulan.

Namun, pada tahun ini, panen itu berlangsung lebih pendek, hanya sepekan atau dua pekan saja. Selain itu, pada bulan Agustus-September lalu, seharusnya menjadi masa panen tuna sirip biru. Namun sayang, nelayan kesulitan mendapatkan cumi-cumi sebagai bahan baku penangkapan ikan tuna.

Editor: Dupla KS
Telah dibaca sebanyak 1948 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Risiko berbeda, premi tiap daerah seharusnya berbeda juga

    +

    Dalam uji coba pertama, Jasindo mengkover 600 hektare (ha) lahan dengan biaya premi Rp 100 juta.

    Baca lebih detail..

  • Agar sukses, perlu insentif bagi penyuluh lapangan

    +

    Program asuransi pertanian menjadi salah satu upaya pemerintah untuk melindungi petani dari efek perubahan iklim. Hanya saja masih banyak kekurangan yang ditemui, seperti kurangnya sosialisasi dan tidak adanya insentif bagi penyuluh pertanian lapa

    Baca lebih detail..