Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina Patra Niaga mengungkapkan bahan bakar minyak (BBM) hasil campuran 50% fatty acid methyl ester (FAME) dengan 50% solar fosil atau biodiesel 50% (B50) telah disalurkan ke sebanyak 6.050 SPBU hingga awal September 2026, sedangkan 362 SPBU masih tahap mendistribusikan B40.
Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra mengatakan, sebanyak 362 titik tersebut masih dalam tahap transisi sebelum menyalurkan B50.
Menurutnya, kendala untuk segera menjual B50 yang dihadapi SPBU mencakup proses penanganan dan distribusi.
"Masih terdapat 362 SPBU yang mendistribusikan B40 ini karena faktor handling dan distribusi khususnya ini sebagian besar ada di wilayah-wilayah yang remote area," ujar Mars Ega dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Selasa (8/9/2026).
Baca Juga: Mayora Siapkan Diversifikasi Pemasok Gula Antisipasi Gangguan Supply
Sementara itu, dari 121 terminal BBM di Pertamina Patra Niaga, sudah 120 terminal yang menyalurkan B50. Hingga saat ini, ia menyebut Terminal BBM Sintang menjadi satu-satunya yang belum menyalurkan B50 karena faktor musim kemarau yang mengakibatkan beberapa sungai mengalami penyusutan.
Berdasarkan wilayah operasional SPBU, Pertamina Patra Niaga mencatat wilayah Sumatera bagian Utara sudah menyalurkan 96% biosolar B50, sedangkan 93% B50 di wilayah Sumatra bagian Selatan.
Sementara itu, wilayah Jawa bagian Barat telah 99% menyalurkan B50, 96% S menyalurkan B50, serta Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) telah 96% menyalurkan B50.
"Saat ini kami juga sedang tahap meningkatkan penyaluran 50% B50 di wilayah regional Papua Maluku," lanjut Mars Ega.
Di saat yang sama, lanjutnya, Pertamina Patra Niaga turut mencatat peningkatan permintaan terhadap biosolar subsidi. Hal ini terjadi seiring masih adanya disparitas harga yang cukup tinggi antara biosolar subsidi B50 dengan produk nonsubsidi.
Baca Juga: Belanja Melalui Media Sosial Marak, Komisi Kreator Tembus Rp 422 Miliar
Menurut Mars Ega, penyaluran B50 menghadapi beberapa tantangan di tengah pasokan yang disebut sudah mencukupi. Pertama, terdapat 17 terminal BBM Pertamina Patra Niaga yang berada di dalam alur sungai yang rawan pendangkalan, sehingga dapat mengganggu kelancaran distribusi FAME.
"Tentunya kami Pertamina Patra Niaga tidak bisa sendirian untuk menjaga agar alur-alur sungai di terminal-terminal BBM ini agar dapat kita kendalikan atau setidaknya jangan sampai mengganggu pasokan BBM termasuk pasokan FAME di wilayah-wilayah tersebut," terangnya.
Karena itu, Mars Ega bilang, pihaknya bersama Kementerian ESDM khususnya Direktorat Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) terus mencari solusi, mengingat Pertamina Patra Niaga merupakan pemasok biosolar terbesar yang memiliki kebutuhan FAME cukup besar.
"Antara jarak sumber supplier FAME dengan outlet penjualan kami terkadang jaraknya cukup jauh. Dan di sini kami berharap terjadi equal treatment karena Pertamina Patra Niaga bukan satu-satunya badan usaha yang mendistribusikan atau memasarkan produk biosolar B50," katanya.
Baca Juga: Pemerintah Matangkan Perpres PLTS 100 GW, Kemenko Perekonomian Beberkan Progresnya
Dengan begitu, dia berharap ada satu harga tertimbang yang dapat diberlakukan sama antara Pertamina Patra Niaga maupun badan usaha lainnya, sehingga terjadi kompetisi yang adil dari sisi pengadaan FAME.
"Karena kami juga mendapatkan FAME dari Sumatra namun kami harus menjual FAME tersebut ke Sulawesi mungkin ke Kalimantan. Nah di sini kami berharap ada satu tarif yang bisa disamakan ditetapkan oleh pemerintah," jelas Mars Ega.
Ia menambahkan, hingga saat ini FAME yang diterima di terminal masih dibedakan menjadi FAME subsidi dan FAME nonsubsidi. Dia berharap bahwa ke depan pemisahan tersebut dapat dilakukan setelah penyaluran ke konsumen, bukan sejak FAME masuk ke terminal.
Dus, badan usaha memiliki fleksibilitas dalam mengatur pasokan sesuai dinamika permintaan antara sektor subsidi maupun nonsubsidi.
"Dengan adanya kebijakan ini, ini akan memperkuat pasokan biosolar B50 kepada masyarakat karena kami selaku badan usaha mempunyai fleksibilitas dari sisi operasional," ujar Mars Ega.
Ia mengatakan, usulan fleksibilitas pengelolaan FAME tersebut saat ini masih dalam tahap pembahasan bersama Kementerian ESDM.
"Beberapa hal ini terus kami komunikasikan dan saat ini sedang berproses untuk penguatan regulasinya bersama Kementerian ESDM khususnya Direktorat EBTKE," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














