kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

AI Answer Economy Ubah Peta Persaingan Bisnis Digital


Jumat, 08 Mei 2026 / 10:55 WIB
AI Answer Economy Ubah Peta Persaingan Bisnis Digital
ILUSTRASI. Ilustrasi Ecommerce (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara nilai ekonomi diciptakan di era digital.

Jika sebelumnya persaingan bisnis ditentukan oleh besarnya distribusi dan traffic, kini perusahaan dinilai dari kemampuannya masuk ke dalam jawaban yang diberikan AI kepada pengguna.

Baca Juga: Indonesia Dorong Penguatan Konektivitas Infrastruktur Energi di Subkawasan ASEAN

Perubahan tersebut muncul seiring berkembangnya platform berbasis AI seperti Google dan OpenAI yang tidak lagi sekadar menampilkan daftar informasi, melainkan langsung menyajikan jawaban yang telah disintesis.

Akibatnya, pengguna kini semakin jarang membuka banyak sumber karena cukup menerima satu jawaban yang dianggap paling relevan.

Head of GEO & AI Optimization Undercover.co.id Jave Danish Arkan menyebut, fenomena ini melahirkan konsep baru bernama AI Answer Economy.

“Ketika AI menjadi lapisan utama dalam pengambilan keputusan, maka siapa pun yang muncul dalam jawabannya akan memiliki posisi strategis yang jauh lebih kuat dibandingkan yang tidak,” ujar Jave dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).

Baca Juga: Sulit Mendapat Pendanaan, Pasar Teknologi Disabilitas Masih Terbuka Lebar

Menurut dia, dalam sistem baru tersebut nilai ekonomi tidak lagi diukur dari jumlah klik atau kunjungan, melainkan dari kemampuan sebuah brand menjadi bagian dari jawaban yang dikonsumsi pengguna.

Ia menilai jawaban AI kini menjadi titik utama interaksi sekaligus pusat pengaruh dalam proses pengambilan keputusan konsumen.

Fenomena ini mulai terlihat di berbagai sektor. Dalam industri e-commerce, misalnya, pengguna kini dapat memperoleh rekomendasi produk secara langsung tanpa harus membuka banyak halaman.

Di sektor keuangan, keputusan konsumen juga mulai dipengaruhi ringkasan AI terhadap produk maupun layanan tertentu.

Sementara itu, pada segmen business to business (B2B), proses pencarian vendor mulai bergeser dari eksplorasi manual menjadi konsumsi jawaban yang telah dipadatkan AI.

Baca Juga: Rasio Kewirausahaan Indonesia Baru 3,29%, Kemendag Dorong Waralaba untuk Genjot UMKM

Jave menilai perubahan tersebut sekaligus menciptakan pola persaingan baru karena AI tidak menampilkan seluruh pemain di pasar, melainkan memilih dan menyederhanakan informasi menjadi beberapa nama yang dianggap paling relevan.

“AI secara tidak langsung menciptakan efek ‘winner takes most’. Ketika satu atau dua nama terus muncul dalam jawaban, maka mereka akan semakin memperkuat posisi di pasar,” jelasnya.

Kondisi ini dinilai berpotensi membuat struktur pasar semakin terkonsentrasi. Brand yang sering muncul dalam jawaban AI akan memperoleh eksposur lebih besar, sementara perusahaan lain berisiko kehilangan relevansi meski memiliki produk dan layanan yang kompetitif.

Karena itu, perusahaan dinilai perlu mengubah pendekatan strategi digitalnya. Tidak cukup hanya hadir secara online, tetapi juga harus mampu dipahami dan direpresentasikan secara tepat oleh sistem AI.

Beberapa aspek yang dinilai penting meliputi kejelasan identitas dan positioning, konsistensi data di seluruh kanal, hingga struktur informasi yang mudah diproses AI.

Baca Juga: Mau Berkarier di Pertamina? Kini Bisa Daftar via MyPertamina

Pendekatan ini berkembang melalui konsep Generative Engine Optimization (GEO), yakni strategi yang berfokus pada bagaimana AI menyusun jawaban, bukan sekadar menampilkan informasi.

Selain itu, AI Answer Economy juga mendorong perubahan cara perusahaan memandang data digital. Data kini tidak lagi hanya menjadi pendukung operasional, melainkan fondasi utama dalam membentuk persepsi dan keputusan pengguna.

Perusahaan yang mampu mengelola data secara strategis dinilai akan lebih mudah masuk ke dalam ekosistem jawaban AI.

Sebaliknya, perusahaan yang gagal beradaptasi berpotensi tertinggal karena tidak muncul dalam sistem jawaban yang baru.

Dalam situasi tersebut, keunggulan bisnis tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas produk atau layanan, tetapi juga kemampuan menjadi bagian dari jawaban yang dipercaya pengguna.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×