Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Selama Ramadan hingga menjelang Idul Fitri, aktivitas digital masyarakat biasanya meningkat. Lonjakan transaksi belanja daring, donasi digital, hingga komunikasi melalui berbagai platform juga membuka peluang bagi pelaku kejahatan siber untuk melancarkan berbagai modus penipuan.
Melihat tren tersebut, PT Itsec Asia Tbk (CYBR) mengingatkan masyarakat dan organisasi meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk penipuan digital selama periode Ramadan. Perusahaan keamanan siber ini menilai, meningkatnya aktivitas digital pada periode tersebut kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan siber melalui berbagai teknik rekayasa sosial.
Berdasarkan pemantauan tim Threat Intelligence Itsex, aktivitas serangan siber selama Ramadan 2026 secara umum menunjukkan penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada Maret 2025 tercatat 45 kasus defacement, 77 kasus kebocoran data, dan dua kasus ransomware. Sementara pada Maret 2026 jumlah tersebut menurun menjadi 23 kasus defacement, 65 kebocoran data, dan satu kasus ransomware.
Upaya serangan distributed denial of service (DDoS) juga menunjukkan tren menurun. Data dari platform Horizon Scout mencatat sekitar 30.600 percobaan serangan pada Maret 2025 dan sekitar 17.900 percobaan pada Maret 2026.
Meski demikian, pelaku kejahatan siber dinilai semakin memanfaatkan momentum Ramadan untuk melakukan berbagai bentuk penipuan digital yang menargetkan masyarakat.
“Ramadan adalah momentum kebersamaan. Di saat yang sama para pelaku kejahatan siber memanfaatkan meningkatnya aktivitas digital pada periode ini. Kesadaran keamanan digital menjadi sangat penting bagi masyarakat dan organisasi,” ujar Presiden Direktur Itsec Asia, Patrick Dannacher, dalam rilis ke Kontan.co.id, Senin (16/3).
Baca Juga: Antisipasi Serangan Siber, ICDX Komitmen Perkuat Keamanan Data
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, sektor industri, dan masyarakat menjadi kunci memperkuat ketahanan siber nasional. "Itsec berkomitmen, terus mendukung Indonesia melalui pemantauan ancaman siber, penguatan kapasitas keamanan digital dan edukasi keamanan siber bagi masyarakat,” tambahnya.
Tim Threat Intelligence ITSEC juga menemukan sejumlah modus penipuan yang kerap muncul selama Ramadan dan menjelang Lebaran. Beberapa di antaranya, donasi amal palsu, promo Ramadan atau diskon Lebaran palsu, penipuan undian hadiah, penipuan belanja online, serta pesan palsu terkait pencairan tunjangan hari raya (THR).
Selain itu terdapat pula modus penyebaran file APK yang menyamar sebagai aplikasi kurir pengiriman paket serta tawaran kerja paruh waktu dengan iming-iming komisi tinggi. Dalam beberapa kasus, pelaku bahkan membuat akun media sosial palsu yang menawarkan undian hadiah mobil, emas hingga perjalanan umrah dengan mengatasnamakan lembaga tertentu.
Itsec juga mengamati bahwa pelaku kejahatan siber semakin memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk membuat serangan menjadi lebih meyakinkan. Teknologi tersebut memungkinkan pembuatan pesan phishing dengan bahasa yang sangat natural sehingga terlihat seperti komunikasi resmi dari bank atau institusi pemerintah.
Selain itu, pelaka dapat membuat situs web palsu yang sangat mirip dengan layanan asli serta menggunakan teknologi voice cloning dan deepfake untuk meniru identitas seseorang. Perkembangan ini membuat masyarakat semakin sulit membedakan antara komunikasi yang asli dan yang palsu.
Dalam periode pemantauan antara 18 Februari hingga 13 Maret 2026, sektor pemerintah tercatat sebagai sektor yang paling banyak menjadi target serangan dengan total 56 insiden.
Sebagian besar insiden berkaitan dengan kebocoran data dan defacement situs. Sektor lain yang juga mengalami insiden antara lain pendidikan, layanan keuangan, logistik, perdagangan, dan organisasi sosial.
Untuk membantu masyarakat menghindari risiko penipuan digital selama Ramadan dan Idul Fitri, Itsec merekomendasikan beberapa langkah keamanan dasar.
Di antaranya memverifikasi tautan atau nomor rekening sebelum melakukan transaksi, menghindari mengunduh file APK dari pesan WhatsApp, SMS, atau email, serta mengaktifkan fitur two-factor authentication pada akun penting seperti email dan mobile banking.
Keamanan digital tidak hanya menjadi tanggung jawab organisasi atau pemerintah tetapi juga seluruh masyarakat sebagai pengguna teknologi.
Dengan meningkatkan kesadaran dan menerapkan langkah perlindungan yang tepat kita dapat bersama sama menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi semua,” ujar Patrick.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













