Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Bank Investasi Infrastruktur Asia (Asian Infrastructure Investment Bank/AIIB) menilai kawasan Asia perlu mempercepat investasi pada infrastruktur hijau, konektivitas lintas negara, serta jaringan digital untuk menghadapi ketidakpastian geopolitik, risiko iklim, dan tekanan ekonomi global.
Kepala Investasi AIIB untuk Sektor Publik serta Pembiayaan Proyek dan Korporasi, Konstantin Limitovskiy mengungkapkan, kebutuhan pendanaan infrastruktur di kawasan masih jauh lebih besar dibandingkan investasi yang tersedia saat ini.
"Investasi yang ada tidak pernah cukup, baik dari sisi kecepatan maupun skalanya, untuk memenuhi permintaan," ujar Limitovskiy dalam Asia Infrastructure Forum (AIF) 2026 di Singapura, Rabu (17/6/2026).
Baca Juga: Tak Lagi Bergantung APBN, Pemerintah Andalkan Proyek Infrastruktur Didanai Swasta
Menurut Limitovskiy, sejak pandemi Covid-19, negara-negara Asia menghadapi berbagai tantangan mulai dari perlambatan ekonomi, ketegangan geopolitik, keterbatasan fiskal, gangguan perdagangan hingga dampak perubahan iklim yang semakin besar.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan pembangunan infrastruktur semakin mendesak.
AIIB menempatkan konektivitas sebagai salah satu prioritas utama investasi. Tidak hanya melalui pembangunan jalan, pelabuhan, dan bandara, tetapi juga lewat proyek-proyek strategis seperti ASEAN Power Grid, kabel bawah laut, hingga infrastruktur satelit.
"Situasi geopolitik saat ini mengingatkan pentingnya memperkuat ketahanan dan keamanan rantai pasok. Karena itu, investasi konektivitas menjadi semakin penting," katanya.
Selain konektivitas, AIIB juga mendorong percepatan pembangunan infrastruktur hijau. Limitovskiy menilai infrastruktur tidak hanya menjadi sumber emisi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari solusi perubahan iklim melalui pengembangan energi terbarukan dan teknologi rendah karbon.
Baca Juga: Danantara Bakal Permudah Investor Masuk ke Proyek Infrastruktur
Hingga kini, AIIB telah menyalurkan pembiayaan sekitar US$ 2 miliar untuk proyek energi terbarukan dan sistem penyimpanan energi baterai (battery energy storage system/BESS) di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Asia Tengah.
Di sektor digital, AIIB telah menyetujui 12 proyek senilai US$ 1 miliar, termasuk pembangunan pusat data hyperscale ramah lingkungan di Malaysia. Meski demikian, kesenjangan akses digital di kawasan masih menjadi tantangan yang perlu diatasi.
Limitovskiy menambahkan, keterbatasan pendanaan masih menjadi hambatan utama pembangunan infrastruktur.
Karena itu, AIIB berupaya menarik lebih banyak modal swasta melalui berbagai skema seperti pembagian risiko, tenor pembiayaan yang lebih panjang, serta pembiayaan dalam mata uang lokal.
Menurut pandangan Limitovskiy, ASEAN Power Grid menjadi contoh proyek yang menggabungkan konektivitas regional, transisi energi bersih, pemanfaatan teknologi, dan skema pembiayaan inovatif secara bersamaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













