Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Logistik Digital Economy Indonesia (ALDEI) menyoroti dampak signifikan dari kenaikan harga avtur terhadap industri logistik nasional, khususnya pada pengiriman udara.
Pasalnya, kenaikan harga avtur yang mencapai kisaran 70% telah berdampak langsung pada lonjakan harga penjualan Surat Muatan Udara (SMU), yang menjadi komponen utama dalam distribusi barang via udara.
Wakil Ketua Umum ALDEI Jimi Krismiardi menyampaikan bahwa kondisi ini menjadi tantangan serius bagi para pelaku industri logistik, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan distribusi cepat dan efisien dalam ekosistem ekonomi digital.
“Lonjakan harga avtur ini secara langsung meningkatkan biaya operasional maskapai kargo, yang kemudian diteruskan dalam bentuk kenaikan tarif SMU. Hal ini berdampak pada pelaku usaha, khususnya sektor e-commerce, manufaktur, dan distribusi yang mengandalkan kecepatan pengiriman udara,” ujar Jimi dalam rilis yang disiarkan pasda Kamis (9/4/2026).
Baca Juga: Angkutan Retail KAI Tembus 61.187 Ton di Kuartal I-2026
Kenaikan tarif ini berpotensi mendorong pergeseran pilihan moda transportasi dari udara ke darat dan laut. Meskipun opsi ini dapat menjadi alternatif, namun terdapat konsekuensi pada lead time pengiriman yang lebih panjang serta potensi penyesuaian pada rantai pasok secara keseluruhan.
“Perubahan preferensi moda transportasi merupakan respons alami pasar. Namun, perlu diantisipasi agar tidak menimbulkan bottleneck baru di sektor darat dan laut, terutama dalam hal kapasitas, infrastruktur, dan efisiensi distribusi,” imbuh Jimi.
Sebagai asosiasi yang menaungi pelaku industri logistik digital, Jimi menegaskan bahwa ALDEI mengambil posisi sebagai jembatan antara pelaku usaha dan pemerintah. Dalam situasi ini, ALDEI mendorong adanya dialog konstruktif serta kolaborasi lintas sektor guna menjaga stabilitas industri logistik nasional.
ALDEI merekomendasikan sejumlah langkah strategis untuk memitigasi dampak dari situasi ini. Pertama, optimalisasi integrasi antar moda transportasi (multimoda) untuk menjaga efisiensi distribusi.
Kedua, penguatan digitalisasi dalam perencanaan logistik guna meningkatkan visibilitas dan efisiensi biaya. Ketiga, evaluasi kebijakan terkait komponen biaya logistik, termasuk avtur, agar tetap kompetitif dan berkelanjutan.
Baca Juga: AION UT Lolos Standar Eropa, Teknologi Charging Makin Canggih
Keempat, insentif atau stimulus bagi sektor logistik yang terdampak langsung.
“Kami percaya bahwa dengan kolaborasi yang erat antara pemerintah, pelaku usaha, dan asosiasi, tantangan ini dapat diubah menjadi momentum untuk memperkuat struktur logistik nasional yang lebih adaptif, efisien, dan berdaya saing,” tutup Jimi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













