Reporter: Prayogi Ikhrawinata | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persaingan bisnis keamanan siber di Indonesia memasuki babak baru seiring meningkatnya ancaman serangan siber dan percepatan transformasi digital.
Jika sebelumnya layanan keamanan lebih banyak berfokus pada penjualan perangkat maupun lisensi, kini penyedia teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology/ICT) berlomba menghadirkan solusi keamanan yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), cloud, hingga layanan managed security.
Baca Juga: Persaingan EV Kian Ketat, MAXUS Perkuat Loyalitas Pelanggan
Perubahan tersebut didorong oleh meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap sistem keamanan yang mampu mendeteksi, menganalisis, dan merespons ancaman secara lebih cepat.
Selain itu, implementasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) serta semakin luasnya adopsi komputasi awan juga mendorong perusahaan meningkatkan investasi di bidang keamanan siber.
Sekretaris Jenderal Indonesia Data Center Ecosystem Council (IDCEC) Erick Hadi mengatakan, permintaan terhadap solusi keamanan siber meningkat signifikan dalam dua tahun terakhir.
Menurutnya, perusahaan kini memandang keamanan siber sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan lagi sekadar pelengkap sistem teknologi informasi.
Baca Juga: Adopsi AI dan Cloud Ubah Peta Persaingan Bisnis Keamanan Siber di Indonesia
Mengacu pada data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), sepanjang 2025 terjadi sekitar 5,5 miliar serangan siber di Indonesia, meningkat sekitar 714% dibandingkan rata-rata tahunan pada periode 2020–2024.
Sementara pada periode 1 Januari hingga 15 April 2026, jumlah serangan telah mencapai sekitar 1,52 miliar.
"Yang membuat pelanggan makin serius bukan hanya angka statistik, tetapi juga berbagai insiden besar yang mereka rasakan dampaknya. Keamanan siber kini menjadi urusan keberlangsungan bisnis," ujar Erick kepada Kontan.co.id Sabtu (11/7/2026).
Menurut Erick, lonjakan ancaman siber turut mengubah peta persaingan industri. Jika sebelumnya pasar didominasi vendor keamanan siber, kini integrator ICT, operator telekomunikasi, penyedia layanan cloud, hingga operator pusat data juga mulai menawarkan layanan keamanan digital sebagai bagian dari portofolio bisnis mereka.
Ia memperkirakan nilai pasar keamanan siber Indonesia mencapai sekitar US$ 1,4 miliar pada 2025 dan berpotensi meningkat menjadi US$ 6,7 miliar pada 2034.
Baca Juga: Investasi Jaringan Telekomunikasi Masih Terkendala Relokasi dan Regulasi Daerah
Dengan demikian, industri ini diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) sekitar 19,4%.
Menurut Erick, perubahan kebutuhan pelanggan juga menggeser model persaingan di industri keamanan siber.
Perusahaan kini tidak lagi mencari sekadar perangkat lunak atau lisensi keamanan, melainkan solusi yang mampu melindungi seluruh ekosistem teknologi informasi mereka.
"Kompetisinya bukan lagi perang harga, tetapi perang diferensiasi. Perusahaan yang mampu menghadirkan solusi keamanan yang terintegrasi dan sesuai kebutuhan pelanggan akan menjadi pemenang," katanya.
Ia menjelaskan, integrasi AI memungkinkan sistem keamanan mengenali pola serangan, mendeteksi anomali, hingga merespons ancaman secara otomatis dalam waktu nyata (real time).
Baca Juga: Transformasi Layanan Berbuah Hasil, KAI Layani 128 Juta Pelanggan pada Kuartal I 2026
Di sisi lain, meningkatnya migrasi sistem perusahaan ke cloud membuat kebutuhan akan perlindungan data dan infrastruktur digital semakin kompleks.
Karena itu, Erick menilai perusahaan penyedia layanan ICT perlu memperluas kapabilitasnya, tidak hanya dalam menjual produk keamanan, tetapi juga menyediakan layanan keamanan terkelola (managed security services), perlindungan infrastruktur cloud, serta layanan pemantauan keamanan yang beroperasi selama 24 jam.
Menurutnya, prospek industri keamanan siber di Indonesia masih sangat menjanjikan. Selain didukung percepatan digitalisasi di berbagai sektor, implementasi regulasi perlindungan data juga akan meningkatkan kesadaran perusahaan untuk memperkuat sistem keamanan mereka.
"Ke depan, pemenangnya bukan perusahaan yang menjual produk paling banyak, tetapi yang mampu menjadi mitra strategis pelanggan dalam menjaga keamanan data dan keberlangsungan bisnis mereka," pungkas Erick.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














