kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.880.000   40.000   1,41%
  • USD/IDR 17.160   -14,00   -0,08%
  • IDX 7.552   -41,67   -0,55%
  • KOMPAS100 1.040   -9,41   -0,90%
  • LQ45 744   -11,64   -1,54%
  • ISSI 274   -1,44   -0,53%
  • IDX30 400   -1,76   -0,44%
  • IDXHIDIV20 486   -3,41   -0,70%
  • IDX80 116   -1,41   -1,20%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 128   -1,24   -0,96%

Amdatara Sebut Daya Beli AMDK Bakal Lebih Selektif Usai Harga Bahan Komponen Naik


Selasa, 21 April 2026 / 10:18 WIB
Amdatara Sebut Daya Beli AMDK Bakal Lebih Selektif Usai Harga Bahan Komponen Naik
Ketua Umum Perkumpulan Usaha Air Dalam Kemasan Nusantara (AMDATARA) Karyanto Wibowo (DOK/Amdatara)


Reporter: Zendy Pradana | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perkumpulan Usaha Air Dalam Kemasan Nusantara (Amdatara) menyatakan bahwa daya beli masyarakat terhadap air mineral dalam kemasan (AMDK) akan mengalami pergeseran, usai harga bahan komponen utama mengalami kenaikan harga yang signifikan.

Saat ini, harga komponen utama seperti bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi seperti solar dan plastik sudah mengalami kenaikan signifikan akibat konflik geopolitik belum selesai.

Ketua Umum Amdatara, Karyanto Wibowo menjelaskan bahwa kenaikan harga pokok produksi tentu saja memengaruhi daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah. Sehingga, akan terjadi pergeseran daya beli.

Baca Juga: Harga Bahan Komponen Melonjak, Sharp: Harga Jual Barang Elektronik Bisa Naik 5%

"Amdatara melihat ada sedikit pergeseran perilaku: konsumen lebih selektif memilih ukuran kemasan yang lebih ekonomis," ujar Karyanto kepada Kontan, Selasa (21/4/2026).

Meski begitu, kata Karyanto, AMDK termasuk produk yang relatif inelastis permintaannya. Sebab, AMDK adalah kebutuhan dasar kesehatan dan hidrasi sehari-hari. 

Karyanto menilai bahwa daya beli akan tetap terjaga ke depannya, sebab masyarakat akan memprioritaskan kebutuhan air minum yang aman.

"Kami optimis bahwa dengan penyesuaian harga yang sangat hati-hati dan transparan, dampaknya dapat diminimalisir," ucapnya.

Lebih lanjut, kata Karyanto, kondisi saat ini adalah tantangan jangka pendek yang mesti dimitigasi dengan baik.

Pasalnya, jika tidak dimitigasi dengan baik, maka kenaikan biaya produksi secara luas berpotensi menekan konsumsi rumah tangga dan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Purbaya Buktikan Daya Beli Masyarakat Meningkat Jelang Nataru

"Selama pemerintah dan pelaku usaha dapat menjaga stabilitas pasokan dan inflasi tetap terkendali, kami yakin konsumsi domestik, khususnya sektor kebutuhan pokok seperti AMDK, tidak akan mengalami kontraksi yang tajam," ungkapnya.

Karyanto menilai bahwa kondisi saat ini juga bisa menjadi momentum para industri atau pengusaha untuk lebih inovatif dan efisien hingga akhirnya membuat dukungan pada pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×