Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menyebut Amerika Serikat (AS) masih menjadi pasar utama ekspor produk turunan kayu, atau mebel Indonesia tahun ini.
“Untuk 2026, negara yang paling potensial tetap Amerika Serikat. Alasannya sederhana, pasar ini masih menjadi tujuan ekspor terbesar furnitur Indonesia, kontribusinya berada di kisaran 54%–55%,” ungkap Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur kepada Kontan, Rabu (15/4/2026).
Abdul menambahkan, saat ini AS terus mencari pemasok yang kompetitif, stabil, dan mampu memenuhi standar kualitas serta kepastian pasok. Sehingga, secara volume ekspor dan peluang jangka pendek, AS masih nomor satu.
Baca Juga: IPC Terminal Petikemas Optimalkan Layanan, Catat 850.000 TEUs Triwulan I-2026
Namun secara strategis, HIMKI tidak boleh hanya bergantung pada AS. Pasar yang perlu disebut sebagai potensial berikutnya adalah Timur Tengah, Uni Eropa pada negara tertentu, serta Jepang dan India.
“Negara-negara ini adalah pasar yang lebih selektif tetapi menjanjikan. Dari data trade map yang diolah HIMKI mencatat impor furnitur negara-negara Gulf Cooperation Counci (GCC) pada 2024 mencapai sekitar US$ 5,47 miliar, sementara produk Indonesia baru mengambil sekitar 0,91% atau US$ 50,5 juta,” jelasnya.
Dalam pandangan HIMKI, ini artinya ruang tumbuh masih sangat besar. Karena itu, posisi HIMKI yang kuat adalah: AS tetap pasar utama untuk skala ekspor, tetapi Timur Tengah adalah pasar strategis untuk ekspansi, sedangkan Eropa, Jepang, dan India penting untuk diversifikasi risiko dan penguatan positioning produk bernilai tambah tinggi.
“Pendekatan ke depan bukan hanya mengejar volume, tetapi juga memperbesar pasar yang lebih stabil, lebih tersebar, dan lebih menghargai desain, sustainability, serta story of origin Indonesia,” tambahnya.
Kerjasama Indonesia-AS yang tertuang dalam Agreement on Reciprocal Trade (ART) atau Perjanjian Perdagangan Resiprokal menurut HIMKI juga telah berpengaruh pada sentimen positif produk mebel dari tanah air.
“Untuk kuartal I-2026, posisi yang paling aman adalah menyampaikan bahwa efek positifnya mulai terasa pada level sentimen dan pembukaan ruang pasar, tetapi belum bisa disebut sebagai lonjakan order yang sepenuhnya terkonsolidasi di data ekspor nasional,” jelasnya.
Baca Juga: MIND ID Dapat Dukungan Penuh DPR untuk Ekspansi Tambang
Sampai semester I-2025, Amerika Serikat masih menyerap sekitar 54,6% ekspor furnitur Indonesia, jadi pasar AS memang tetap menjadi anchor market utama bagi industri nasional.
Di awal 2026, tepatnya pada Januari–Februari 2026, total ekspor nasional juga masih tumbuh secara tahunan. Menurut Abdul, memberi sinyal bahwa demand dari pasar AS belum melemah drastis.
“Jadi sudah ada sinyal positif berupa meningkatnya minat buyer, pembicaraan bisnis, dan terbukanya peluang memperbesar porsi Indonesia sebagai alternatif sourcing untuk pasar AS.
“Ini juga tercermin dari partisipasi Indonesia di pameran Chicago yang mencatat potensi transaksi sekitar US$ 11,07 juta. Artinya, efek pasca-trade deal lebih tepat dibaca sebagai momentum pembukaan akses yang perlu dikonversi menjadi order riil dalam kuartal-kuartal berikutnya,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













