Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar dalam negeri masih menjadi motor utama pertumbuhan bisnis PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam. Hingga September 2026, kontribusi penjualan domestik mencapai 95% dari total penjualan bersih perusahaan, didukung kuatnya permintaan terhadap produk emas, bijih nikel, dan bijih bauksit.
Corporate Secretary Division Head Antam, Wisnu Danandi Haryanto, mengungkapkan bahwa penjualan domestik Antam tercatat sebesar Rp 83,86 triliun hingga September 2026.
"Capaian tersebut meningkat 21% dibandingkan sembilan bulan 2025, mencerminkan kuatnya penyerapan pasar dalam negeri terhadap produk emas, bijih nikel, dan bijih bauksit ANTAM," kata Wisnu kepada Kontan, Senin (2/11/2026).
Menghadapi sisa tahun ini, Antam masih optimistis terhadap prospek penjualan sejumlah komoditas. Perusahaan pun terus mengoptimalkan strategi pemasaran dengan menyesuaikan karakteristik setiap produk serta perkembangan permintaan pasar.
Baca Juga: Batas Maksimal Fuel Surcharge Tiket Pesawat Domestik Tetap 40% di November 2026
Untuk produk feronikel, Antam tidak hanya mempertahankan hubungan bisnis dengan pelanggan yang sudah ada, tetapi juga mulai menjajaki peluang ekspansi ke pasar ekspor.
"ANTAM terus memperkuat hubungan dengan pelanggan eksisting untuk produk feronikel, sekaligus mengevaluasi peluang pengembangan pasar ekspor yang memiliki prospek komersial yang baik," jelasnya.
Sementara itu, pemasaran emas dan bijih nikel masih diarahkan untuk mengoptimalkan penyerapan pasar domestik. Fokus tersebut sejalan dengan agenda pemerintah dalam mempercepat hilirisasi serta memperkuat industri mineral nasional.
Wisnu mengatakan, strategi pemasaran tersebut menjadi bagian dari upaya Antam untuk menjaga kesinambungan penjualan, meningkatkan daya saing, dan mendorong pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.
Di sisi lain, Antam juga mencermati potensi dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap kinerja keuangan perusahaan. Wisnu menyebut, perkembangan nilai tukar dan dinamika pasar komoditas global menjadi sejumlah faktor yang terus diperhatikan dalam pengelolaan risiko usaha.
Baca Juga: Bahlil: RI Bakal Ekspor Listrik Selama Harga Cocok
Menurutnya, pengaruh fluktuasi kurs terhadap kinerja Antam tidak dapat disamaratakan karena bergantung pada karakteristik masing-masing komoditas, termasuk orientasi pasar domestik maupun ekspor.
"Dampaknya terhadap kinerja perusahaan juga perlu dilihat secara menyeluruh dengan mempertimbangkan harga komoditas, volume penjualan, serta struktur biaya operasional," ungkapnya.
Untuk menjaga stabilitas kinerja di tengah ketidakpastian pasar, Antam terus memperkuat pengelolaan keuangan dan risiko. Perusahaan juga mengoptimalkan kegiatan operasional serta memperkuat strategi komersial guna mempertahankan kinerja bisnis di tengah perubahan kondisi pasar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














