kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   19.000   0,72%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

APINDO: Ada industri yang belum siap hadapi MEA


Rabu, 02 April 2014 / 20:19 WIB
ILUSTRASI. 4 Manfaat Memakai Lingerie untuk Wanita Single.


Reporter: Agus Triyono | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Perdagangan bebas antar negara ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah di depan mata. Tapi sepertinya para pengusaha Indonesia belum siap menghadapi persaingan dengan perusahaan-perusahaan negara tetangga tersebut. Buktinya, para pengusaha meminta pemerintah untuk meninjau kembali 12 sektor industri dalam pelaksanaan MEA pada 2015.

Sofjan Wanandi, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengatakan, ada beberapa pengusaha dan industri yang belum siap jika sektor- sektor tersebut dibuka secara bebas.

Sektor- sektor tersebut antara lain; jasa, manufaktur, pertanian, dan elektronik. "Kita itu hanya bisa bersaing di beberapa sektor, seperti yang labor intensive, dan natural resources, elektronik kita kalah dengan Vietnam, pertanian kalah dengan Thailand," kata Sofjan, kepada KONTAN Rabu (2/4).

Sofjan khawatir, jika pemerintah tetap memaksakan diri untuk membuka secara bebas sektor- sektor yang Indonesia belum siap, akan membuat industri di dalam negeri mati.

Sekadar mengingatkan, pada pelaksanaan MEA 2015 nanti, 12 sektor akan dibuka secara bebas. Sektor tersebut terdiri atas lima sektor jasa; transportasi udara, e-Asean, pelayanan kesehatan, turisme dan jasa logistik  dan 7 sektor perdagangan/ industri; produk berbasis pertanian, elektronik, perikanan, produk berbasis karet, tekstil, otomotif, dan produk berbasis kayu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×