kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   19.000   0,72%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Gaikindo Minta Insentif Otomotif Tak Lagi Fokus pada Mobil Listrik


Sabtu, 04 Juli 2026 / 16:05 WIB
Gaikindo Minta Insentif Otomotif Tak Lagi Fokus pada Mobil Listrik
ILUSTRASI. Pasar otomotif nasional butuh dorongan kuat. Gaikindo usul insentif diperluas. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengusulkan agar pemerintah memperluas pemberian insentif otomotif sehingga tidak hanya berfokus pada kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV), tetapi juga mencakup kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE), hybrid electric vehicle (HEV), serta plug-in hybrid electric vehicle (PHEV).

Usulan tersebut disampaikan kepada Kementerian Perindustrian sebagai bagian dari upaya menjaga pertumbuhan industri otomotif nasional di tengah perlambatan daya beli masyarakat dan ketatnya persaingan investasi di kawasan.

Ketua Bidang Pengembangan Pasar Gaikindo Jongkie Sugiarto mengatakan, dukungan pemerintah perlu diberikan kepada seluruh teknologi kendaraan agar pasar otomotif tetap bertumbuh sekaligus memberikan kepastian bagi pelaku industri dalam merealisasikan investasi jangka panjang.

Baca Juga: Industri Mamin Optimistis Tumbuh 7% Meski Dibayangi Tekanan Biaya Produksi

"Beberapa perusahaan otomotif dari Tiongkok juga mengharapkan dukungan yang sama dari pemerintah untuk menjalankan rencana investasi jangka panjang di Indonesia," ujar Jongkie.

Menurut Gaikindo, berbagai insentif yang selama ini telah diberikan pemerintah, seperti Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), fasilitas User Specific Duty-Free Scheme (USDFS), serta program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV), terbukti berkontribusi dalam meningkatkan daya saing industri otomotif nasional.

Ketua Harian Gaikindo Anton Kumonty menambahkan, kepastian arah kebijakan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor dan memperkuat iklim investasi di sektor otomotif.

Berdasarkan data Gaikindo, hingga Desember 2025 terdapat 74 perusahaan yang memanfaatkan fasilitas USDFS, dengan 57 perusahaan di antaranya berasal dari sektor otomotif. Skema tersebut memberikan pembebasan bea masuk atas impor bahan baku dan komponen yang belum diproduksi di dalam negeri sehingga mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat daya saing industri.

Gaikindo juga menilai Indonesia masih memiliki daya tarik sebagai tujuan investasi bagi produsen otomotif global, baik dari Jepang maupun Tiongkok. Karena itu, asosiasi berharap pemerintah dapat menjaga konsistensi kebijakan agar iklim investasi tetap kondusif.

Honda: Insentif Perlu Menjangkau Semua Teknologi

Dukungan terhadap usulan tersebut juga datang dari pelaku industri. PT Honda Prospect Motor (HPM) menyatakan mendukung setiap kebijakan yang mampu memperkuat industri otomotif nasional, termasuk perluasan insentif bagi seluruh jenis kendaraan.

Baca Juga: Harga Ayam Hidup Masih di Bawah HPP, Segini Kerugian yang Ditanggung Peternak

Sales, Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor Yusak Billy menilai pendekatan yang lebih inklusif akan memberikan keleluasaan bagi masyarakat dalam memilih kendaraan sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial.

"Kami melihat pendekatan yang lebih luas dapat membantu konsumen mendapatkan pilihan kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka," ujar Billy kepada Kontan, Kamis (2/7/2026).

Billy menilai, kebijakan yang paling dibutuhkan saat ini adalah insentif yang memberikan manfaat langsung kepada konsumen sehingga mampu menjaga daya beli dan mendorong transaksi kendaraan baru.

"Yang paling penting adalah insentif yang dapat langsung membantu daya beli konsumen dan menjaga pasar tetap bergerak. Bentuknya tentu menjadi kewenangan pemerintah, namun kami berharap kebijakan yang diberikan dapat bersifat inklusif, tepat sasaran, dan mendukung berbagai teknologi yang relevan bagi konsumen Indonesia," katanya.

Ia menambahkan, efektivitas kebijakan terhadap penjualan kendaraan akan sangat dipengaruhi oleh desain insentif yang diterapkan, mulai dari besaran hingga waktu pelaksanaannya.

"Dampaknya tentu akan bergantung pada bentuk, besaran, dan waktu penerapan insentif tersebut. Namun secara umum, kebijakan yang dapat meringankan konsumen berpotensi membantu meningkatkan minat beli dan menjaga momentum pasar otomotif hingga akhir tahun," imbuhnya.

Hyundai Sambut Positif Perluasan Insentif

Pandangan serupa disampaikan PT Hyundai Motors Indonesia (HMID). Produsen otomotif asal Korea Selatan tersebut menyambut positif usulan Gaikindo untuk memperluas cakupan insentif otomotif kepada kendaraan konvensional, hybrid, PHEV, maupun BEV.

Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia Fransiscus Soerjopranoto mengatakan, Hyundai mendukung berbagai masukan yang diarahkan untuk memperkuat pertumbuhan industri otomotif nasional.

Baca Juga: HIMKI: PMI Manufaktur Turun, Industri Furnitur Butuh Kepastian Kebijakan

"Hyundai menyambut baik berbagai masukan yang bertujuan mendukung pertumbuhan industri otomotif nasional, termasuk usulan perluasan insentif yang disampaikan oleh Gaikindo," ujar Fransiscus kepada Kontan, Rabu (1/7/2026).

Menurutnya, kebijakan yang mampu meningkatkan daya beli masyarakat, memperkuat permintaan pasar, sekaligus mendukung transisi menuju mobilitas yang lebih berkelanjutan akan memberikan manfaat bagi seluruh pelaku industri.

Hyundai juga berpandangan bahwa dukungan fiskal yang dapat langsung dirasakan konsumen merupakan salah satu instrumen paling efektif untuk menjaga pertumbuhan pasar otomotif. Bentuk kebijakan tersebut dapat berupa keringanan pajak maupun relaksasi biaya kepemilikan kendaraan sehingga mendorong masyarakat melakukan pembelian kendaraan baru.

Selain insentif fiskal, Hyundai menilai dukungan nonfiskal juga memiliki peran penting, antara lain melalui kemudahan pembiayaan, penguatan infrastruktur pendukung, serta berbagai program yang dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pasar otomotif nasional.

"Adapun dampaknya terhadap penjualan akan bergantung pada bentuk, cakupan, dan mekanisme implementasi kebijakan tersebut," katanya.

Pelaku industri berharap pemerintah segera menetapkan arah kebijakan insentif otomotif yang mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus memberikan kepastian bagi investor. Langkah tersebut dinilai penting untuk mempertahankan momentum pertumbuhan pasar otomotif nasional di tengah tantangan ekonomi yang masih berlangsung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×