kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   19.000   0,72%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Harga Ayam Hidup Masih di Bawah HPP, Segini Kerugian yang Ditanggung Peternak


Sabtu, 04 Juli 2026 / 15:50 WIB
Harga Ayam Hidup Masih di Bawah HPP, Segini Kerugian yang Ditanggung Peternak
ILUSTRASI. Harga ayam hidup terus menekan peternak, jauh di bawah HPP Rp20.000/kg. Akibat kelebihan pasok, kerugian mencapai Rp12.000 per ekor. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Penulis: Chelsea Anastasia | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga ayam hidup di tingkat peternak masih berada di bawah harga pokok produksi (HPP) sebesar Rp 20.000 per kilogram (kg) sejak awal Juni 2026. Kondisi ini terus menekan margin usaha peternak dan memicu kerugian yang cukup besar di berbagai daerah.

Tekanan harga tersebut terjadi di tengah melimpahnya pasokan ayam di pasar, sementara permintaan belum mampu menyerap produksi secara optimal. Akibatnya, harga jual ayam hidup di tingkat peternak masih bertahan jauh di bawah biaya produksi.

Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Wahyudi mengatakan, kondisi tersebut membuat peternak harus menanggung kerugian sekaligus mencari berbagai strategi untuk mengurangi beban usaha.

Baca Juga: HIMKI: PMI Manufaktur Turun, Industri Furnitur Butuh Kepastian Kebijakan

Saat ini, harga ayam hidup di tingkat peternak berada di kisaran Rp 14.000 hingga Rp 15.000 per kg. Dengan level harga tersebut, peternak diperkirakan mengalami kerugian hingga Rp 12.000 per ekor untuk ayam dengan bobot di atas 2 kg saat masih berada di kandang.

Kelebihan Pasokan Tekan Harga Ayam Hidup

Sugeng menjelaskan, salah satu penyebab utama anjloknya harga ayam hidup adalah kelebihan pasokan yang mengganggu keseimbangan antara produksi dan permintaan di pasar. Selain itu, berkurangnya permintaan selama masa libur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut memperparah tekanan harga.

"Harga ayam hidup turun karena kelebihan pasok ayam sehingga keseimbangan supply dan demand terganggu, efeknya harga tertekan. Selain itu, libur MBG juga mengurangi permintaan daging ayam," ujarnya kepada Kontan, Jumat (3/7/2026).

Menurut Sugeng, tekanan harga masih berlanjut hingga awal Juli 2026. Situasi tersebut memaksa sebagian peternak melakukan penyesuaian operasional untuk menekan kerugian, di antaranya dengan mengurangi populasi ayam yang dipelihara maupun memperpanjang masa kosong kandang sebelum kembali melakukan pemeliharaan.

Sebelumnya, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) telah meminta perusahaan-perusahaan besar untuk mengurangi stok ayam di kandang melalui pemotongan dan penyimpanan sebagai cadangan stok.

Baca Juga: 75 Tahun Hubungan RI-Swiss, Givaudan Pertegas Dominasi Lewat Investasi Strategis

Namun, menurut Sugeng, kebijakan tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap pemulihan harga di tingkat peternak.

"Namun demikian, sampai dengan saat ini langkah tersebut efeknya belum nampak. Harga juga masih jauh di bawah imbauan, apalagi dibandingkan biaya pokok produksi peternak," jelas Sugeng.

GOPAN Usulkan Pemerintah Serap Ayam Peternak

Untuk membantu menstabilkan harga sekaligus mengurangi kelebihan pasokan, GOPAN mengusulkan agar pemerintah kembali melakukan program serapan ayam hidup dari peternak rakyat, khususnya peternak kecil yang paling terdampak penurunan harga.

Menurut Sugeng, program tersebut pernah dijalankan pemerintah beberapa tahun lalu dan dinilai mampu membantu menjaga harga di tingkat peternak sekaligus mendukung program sosial pemerintah.

"Serapan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai cadangan pangan pemerintah maupun untuk program penanganan stunting bagi masyarakat, seperti dua tahun lalu," tegas Sugeng.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×