CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 17.664   37,00   0,21%
  • IDX 6.430   -111,50   -1,70%
  • KOMPAS100 847   -11,13   -1,30%
  • LQ45 643   -6,84   -1,05%
  • ISSI 222   -4,83   -2,13%
  • IDX30 357   -3,95   -1,09%
  • IDXHIDIV20 446   -3,28   -0,73%
  • IDX80 97   -1,07   -1,09%
  • IDXV30 124   -1,08   -0,86%
  • IDXQ30 115   -0,88   -0,76%

APJII Wanti-Wanti Supply Data Center Perlu Mengikuti Pertumbuhan Demand


Senin, 14 September 2026 / 12:21 WIB
APJII Wanti-Wanti Supply Data Center Perlu Mengikuti Pertumbuhan Demand
ILUSTRASI. Muhammad Arif Angga, Ketua Umum APJII (Dok/APJII)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melihat permintaan pusat data (data center) di Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Kenaikan trafik internet, penggunaan cloud hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi penopangnya.

Ketua Umum APJII, Muhammad Arif mengatakan, pertumbuhan kebutuhan data center sejalan dengan semakin besarnya penggunaan internet di Indonesia. Digitalisasi perusahaan yang terus berjalan juga turut mendorong kebutuhan penyimpanan dan pengolahan data.

"Demand-nya memang terus tumbuh. Pengguna internet Indonesia sudah sangat besar, trafik juga terus naik," kata Arif kepada Kontan, Senin (14/9/2026).

Menurut dia, kebutuhan data center saat ini bukan sekadar mengikuti tren investasi. Pertumbuhan penggunaan cloud dan mulai meningkatnya kebutuhan komputasi AI menunjukkan adanya permintaan riil terhadap kapasitas data center.

Meski demikian, Arif mengingatkan bahwa pertumbuhan demand tidak berarti seluruh kapasitas baru akan langsung terserap. Pembangunan data center tetap perlu mempertimbangkan lokasi, konektivitas, pasokan listrik, efisiensi serta kepastian permintaan dari tenant.

"Cloud dan pertumbuhan trafik internet masih menjadi pendorong utama. Ke depan AI juga akan menambah demand cukup signifikan karena kebutuhan komputasinya jauh lebih besar," ujarnya.

Baca Juga: Bisnis Satelit RI Masuk Fase Disrupsi, APJII: Operator Harus Adaptasi atau Tertinggal

Arif mengakui terdapat risiko kelebihan pasokan atau oversupply apabila banyak pemain membangun kapasitas dalam waktu yang hampir bersamaan. Namun, ia memperkirakan risiko tersebut lebih mungkin bersifat sementara atau terjadi di lokasi tertentu.

Sebab, kebutuhan terhadap data center diperkirakan tetap meningkat seiring pertumbuhan konsumsi data dan komputasi digital.

"Jangan hanya melihat berapa MW yang dibangun. Data center dengan lokasi, konektivitas dan reliability yang bagus tentu punya value yang berbeda," kata Arif.

Baca Juga: Kemkomdigi Targetkan Kecepatan Internet Nasional Capai 100 Mbps dalam Dua Tahun

Baca Demand

Arif optimistis kebutuhan data center dalam lima tahun mendatang akan semakin besar. Pertumbuhan kebutuhan data, cloud dan computing diperkirakan terus berlanjut, terlebih jika adopsi AI semakin masif.

Karena itu, ia menilai tantangan industri bukan semata-mata menyediakan kapasitas sebesar-besarnya. Pelaku usaha perlu memastikan ekspansi kapasitas tetap sejalan dengan pertumbuhan permintaan.

"Demand-nya menurut kami masih sangat besar. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai supply tumbuh terlalu jauh mendahului demand," tuturnya.

Menurut Arif, persaingan industri data center ke depan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh besarnya kapasitas yang dibangun. Kemampuan membaca kebutuhan pasar dan menyediakan fasilitas di lokasi dengan dukungan infrastruktur yang tepat juga akan menjadi pembeda.

"Pada akhirnya bukan soal siapa yang paling besar membangun data center, tapi siapa yang paling tepat membaca kebutuhan pasar," pungkasnya.

Baca Juga: YLKI Apresiasi Aturan Perlindungan Sisa Kuota Internet

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×