kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45889,38   -11,44   -1.27%
  • EMAS1.338.000 0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Aprindo harap pemerintah beri bantuan langsung ke banyak restoran terdampak PPKM


Senin, 18 Januari 2021 / 20:40 WIB
Aprindo harap pemerintah beri bantuan langsung ke banyak restoran terdampak PPKM
ILUSTRASI. Aktivitas di restoran KFC Naughty by Nature di Jl Senopati, Jakarta Selatan, Rabu (18/11). Aprindo harap pemerintah beri bantuan langsung ke banyak restoran terdampak PPKM .


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Dampak dari penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) sangat dirasakan oleh Pengusaha Kafe dan Restoran. Dengan dibatasinya jam operasional dan batas okupansi untuk dine-in maksimal 25% diakui memberatkan bisnis dan mendorong penutupan layanan.

"Yah kan ada pembatasan untuk dine in hanya 25% jadi gimana ngga mungkin bisa tercapai pendapatan seperti semula. Dengan adanya PPKM tingkat okupansinya paling hanya 10%-15% dari total," ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Eddy Sutanto kepada kontan.co.id, Senin (18/1).

Oleh karena itu, pihaknya meminta kepada pemerintah agar menyiapkan solusi guna meminimalisasikan dampak negatif dari kebijakan pembatasan operasional yang dilakukan selama masa PPKM. Pihaknya juga mengharapkan pemerintah dapat memberi bantuan langsung, seperti menanggung upah pekerja.

"Bantuan dalam bentuk langsung seperti subsidi upah lebih efektif karena pembayaran upah pekerja yang menyedot 30% operasional sulit dipenuhi pengusaha saat pembatasan berlangsung," katanya.

Baca Juga: PSBB Transisi Jakarta: Tukang cukur boleh beroperasi, spa dan karaoke belum

Menurutnya, penopang pemasukan utama berupa layanan dine-in tidak bisa diandalkan saat pembatasan diterapkan. Selain itu, layanan drive thru dan take away disebut memberi dampak yang tidak signifikan.

“Dibandingkan saat dine-in, pemesanan melalui drive thru maupun take away cenderung lebih sedikit nilainya. Konsumen tidak membeli sebanyak saat makan di tempat. Oleh karena itu saat ini kami maksimalkan dengan memperbanyak channel online,” jelas Eddy.

Ia menambahkan banyak pengusaha tidak terlalu menaruh harap pada program vaksinasi. Selain proses yang panjang, tingkat efikasi vaksin pun belum diketahui. “Kami masih belum tahu kapan akan pulih. Tingkat ketidakpastian masih tinggi, bahkan restoran chain besar belum percaya diri, apalagi yang skala kecil,” ungkap Eddy.

Eddy mengatakan, cara memulihkan sektor ini adalah dengan key factor Covid-19 harus bisa dikontrol dan kesadaran masyarakat juga harus sangat peduli untuk menurunkan tingkat penyebaran.

Selanjutnya: PSBB Transisi Jakarta: Tukang cukur boleh beroperasi, spa dan karaoke belum

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×