kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45693,86   4,52   0.66%
  • EMAS909.000 -0,87%
  • RD.SAHAM 0.85%
  • RD.CAMPURAN 0.47%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.24%

APTRI: Kenaikan harga gula masih dalam batas normal


Senin, 17 Februari 2020 / 23:54 WIB
APTRI: Kenaikan harga gula masih dalam batas normal
ILUSTRASI. Kebutuhan gula per kapita per bulan hanya berkisar antara 800 gram hingga 900 gram

Reporter: Rahma Anjaeni | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen mengatakan, kenaikan harga gula yang terjadi belakangan ini, masih di dalam batas yang normal menurut hitungan para petani tebu. Untuk itu, Soemitro mengimbau agar masyarakat tidak terlalu meributkan kenaikan harga gula ini.

Apalagi kebutuhan gula per kapita per bulan hanya berkisar antara 800 gram hingga 900 gram. "Tidak usah terlalu diributkan, gula beredar itu masih banyak kok. Kenapa ini bisa naik ya memang ini seharusnya harganya segitu," ujar Soemitro kepada Kontan.co.id, Senin (17/2).

Meskipun begitu, Soemitro mengatakan memang ada faktor yang melatarbelakangi kenaikan harga gula ini, salah satunya adalah karena saat ini memang sudah di luar masa panen tebu. Jadi stok gula memang tidak sebanyak pada saat masa panen. Meski di luar masa panen, tetapi stok tebu yang ada pada produsen saat ini masih cukup baik, sehingga tidak ada harga gula yang jatuh di pasaran.

Baca Juga: Ini langkah Kementan untuk mengantisipasi gejolak harga pangan jelang Ramadan

Menurut Soemitro, kenaikan harga saat ini juga merupakan suatu hal yang wajar. Pasalnya, memang sejak 2014 nilai break event point (BEP) gula belum pernah naik. Soemitro menjelaskan, pada tahun lalu nilai BEP gula di petani berada pada angka Rp 11.000, untuk tahun ini kemungkinan nilainya bisa mencapai Rp 11.500.

"Kalau kita mau untung ini kan jualnya minimal Rp 12.500-Rp 13.000. Kalau kami lelangnya ke pedagang Rp 13.000, lalu harga pasar sekarang Rp 15.000 kan memang itu yang kita harapkan, petani punya tambahan pendapatan dari yang kemarin-kemarin kita kurang (pendapatan)," paparnya.

Lebih lanjut, Soemitro menjelaskan apabila pendapatan petani setiap tahunnya berkurang, maka hal ini akan berimbas pada pengurangan lahan tebu setiap tahunnya. Belum lagi masa panen tebu yang hanya satu tahun sekali, tentu pendapatan yang rendah tidak akan sesuai dengan waktu serta tenaga yang telah dikeluarkan oleh para petani tebu.

Baca Juga: Harga gula pasir mulai merangkak naik

Secara tidak langsung, kenaikan harga gula ini memberikan dampak positif kepada para petani tebu. Dengan adanya kenaikan harga yang kemudian berimbas pada tingginya penawaran pedagang terhadap petani, maka petani akan merasa bangga dan merasa produknya dihargai oleh banyak pihak.

Pada akhirnya, hal tersebut dapat membangkitkan gairah petani untuk terus menanam tebu dan memberikan hasil yang terbaik bagi seluruh konsumen.

Kemudian, kata Soemitro, apabila stok gula dalam negeri memang dirasa kurang, barulah pemerintah dapat melakukan impor gula, tetapi dengan catatan impor ini tetap sesuai dengan kebutuhan atau tidak berlebihan.

"Tapi jangan sampai stok berkurang ini digunakan sebagai alasan atau pembenaran untuk melakukan impor secara besar-besaran," kata Soemitro.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×