kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.943.000   -53.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.020   45,00   0,27%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Pengamat Dorong MLFF untuk Meredam Kemacetan Mudik di Gerbang Tol


Kamis, 19 Maret 2026 / 14:30 WIB
Pengamat Dorong MLFF untuk Meredam Kemacetan Mudik di Gerbang Tol
ILUSTRASI. Antrean panjang di tol bisa diatasi dengan MLFF. Pahami mengapa sistem ini krusial dan bagaimana penerapannya.(KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kemacetan panjang di pintu tol kembali terjadi pada arus mudik Lebaran tahun ini. Kondisi tersebut menegaskan bahwa persoalan utama bukan semata lonjakan kendaraan, melainkan hambatan struktural pada sistem transaksi di gerbang tol.

Sistem pembayaran berbasis tapping e-money dinilai menjadi titik krusial yang menurunkan kapasitas jalan, terutama saat volume kendaraan meningkat tajam.

Pengamat transportasi dari Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan (PKTJ) Tegal, Anton Budiharjo, menjelaskan bahwa dalam teori lalu lintas, gerbang tol merupakan titik bottleneck atau penyempitan kapasitas.

Baca Juga: Garuda Indonesia Targetkan 2026 Jadi Titik Balik, Siap Operasikan 118 Unit Armada

“Dengan waktu layanan per kendaraan sekitar 4–5 detik, ketika volume lalu lintas meningkat hingga dua sampai tiga kali lipat saat mudik, akumulasi antrean menjadi tidak terhindarkan,” ujarnya Kamis (19/3/2026).

Menurut dia, selisih waktu beberapa detik saja dalam kondisi arus puncak dapat berkembang menjadi antrean panjang hingga meluber ke lajur utama. Dampaknya, kepadatan tidak hanya terjadi di gerbang tol, tetapi juga merambat ke ruas jalan sebelumnya.

Dalam jangka pendek, Anton menilai optimalisasi operasional perlu dilakukan, seperti penambahan gardu tol termasuk gardu satelit di titik krusial seperti Cikampek Utama dan Kalikangkung. Selain itu, rekayasa lalu lintas seperti contraflow, pengaturan lajur, hingga kebijakan open barrier saat puncak arus dinilai efektif untuk mengurai antrean.

Ia juga menekankan pentingnya penambahan mobile reader serta pengaturan distribusi kendaraan ke rest area agar tidak terjadi penumpukan.

Baca Juga: MRT Jakarta Terapkan Pola Akhir Pekan Saat Libur Lebaran, Tarif Rp 1 Berlaku Dua Hari

Namun secara struktural, solusi utama adalah menghilangkan titik henti di jalan tol.

“Inti masalahnya ada pada friction point di gerbang tol. Jika ini dihilangkan, arus lalu lintas bisa menjadi free flow,” kata Anton.

Untuk itu, ia mendorong penerapan sistem pembayaran nirsentuh dan nirhenti atau multi lane free flow (MLFF). Sistem ini memungkinkan kendaraan melintas tanpa berhenti sehingga kapasitas jalan meningkat tanpa perlu penambahan infrastruktur fisik.

Sebagai tahap awal, Anton menyarankan penerapan single lane free flow sebelum implementasi penuh MLFF.

Ia menjelaskan, MLFF bekerja dengan mendeteksi kendaraan secara otomatis menggunakan teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS) yang terhubung dengan aplikasi di ponsel. Sistem kemudian mencocokkan pergerakan kendaraan dengan jaringan jalan tol, menghitung tarif berdasarkan jarak tempuh, dan memotong saldo secara elektronik.

Selain itu, pemantauan juga dilakukan melalui kamera Automatic Number Plate Recognition (ANPR) yang mampu membaca pelat nomor kendaraan dengan akurasi tinggi, bahkan pada kecepatan tinggi dan dalam berbagai kondisi.

Baca Juga: Mudik Lebaran, Volume Kendaraan di Tol Astra Infra Melonjak 99% pada Selasa (17/8)

Dengan sistem ini, seluruh proses transaksi berlangsung secara real time tanpa menghentikan kendaraan, sehingga gerbang tol tidak lagi diperlukan.

Anton menilai, secara teoritis dan praktik internasional, sistem MLFF mampu menghilangkan bottleneck di gerbang tol. Negara yang telah menerapkan sistem ini mencatat penurunan delay hingga lebih dari 90%.

Namun demikian, efektivitas MLFF sangat bergantung pada akurasi identifikasi kendaraan serta kekuatan penegakan hukum.

“Tanpa dua hal tersebut, yakni akurasi identifikasi dan penegakan hukum—potensi kesalahan transaksi serta pelanggaran dapat mengurangi manfaat yang diharapkan,”tambah dia.

Di sisi lain, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo memastikan proyek MLFF tetap berjalan meski sempat menghadapi kendala teknis dan nonteknis.

“MLFF itu tetap berproses. Ada sedikit masalah teknis dan nonteknis, tetapi itu sudah dibereskan semua. Namun karena melibatkan banyak pihak, tentu perlu waktu untuk merapikannya,” ujar Dody dalam media gathering persiapan mudik Lebaran 2026 di Jakarta. 

Ia menyebut, pengujian sistem akan terus dilanjutkan untuk memastikan kesiapan teknologi sebelum implementasi lebih luas.

Sebagai informasi, MLFF merupakan sistem pembayaran tol tanpa gerbang yang memungkinkan kendaraan melintas tanpa harus berhenti. 

Proyek ini telah diinisiasi sejak 2016 dan digarap oleh Roatex Ltd melalui PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) dengan dukungan pendanaan dari pemerintah Hungaria.

Ke depan, penerapan MLFF diharapkan menjadi solusi untuk mengurai kemacetan kronis di gerbang tol, khususnya saat lonjakan lalu lintas seperti musim mudik Lebaran.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×