Reporter: Alya Fathinah | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Artotel Group memperluas bisnis perhotelan melalui diversifikasi portofolio merek, kemitraan pengelolaan properti, dan penguatan identitas perusahaan.
Strategi ini ditempuh untuk menjangkau segmen konsumen yang lebih luas sekaligus menjaga pertumbuhan di tengah persaingan industri perhotelan.
Perusahaan yang dirintis pada 2011 tersebut kini mengelola lebih dari 100 properti dengan total sekitar 10.000 kamar yang tersebar di 36 kota di Indonesia.
Baca Juga: Hadapi Aturan Deforestasi Uni Eropa, Indonesia Perkuat Sistem Data Sawit
Portofolio bisnisnya mencakup sejumlah merek, termasuk Dafam dan MaxOne, untuk menjangkau karakteristik konsumen dan kebutuhan pasar yang berbeda.
Director of Marketing Communication Artotel Group Yulia Maria mengatakan, diversifikasi merek menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas jangkauan pasar.
Menurut dia, perusahaan perlu memiliki portofolio yang beragam agar dapat melayani konsumen dengan kebutuhan dan daya beli berbeda.
“Growth itu adalah bagaimana kita mengangkat perusahaan ini untuk menjadi sebuah established company,” ujar Yulia dalam acara Indonesia Knowledge Forum XV, Selasa (13/10/2026).
Artotel Group mengembangkan merek Artotel dengan mengusung konsep seni dan kreativitas. Sementara itu, merek lain dalam portofolionya melengkapi jangkauan bisnis, termasuk untuk menyasar konsumen yang lebih sensitif terhadap harga dan pasar di berbagai kota.
Baca Juga: Pertamina &Transjakarta Kembangkan Bus Hidrogen, Targetkan 2 Bus FCEV Beroperasi 2028
Selain mengembangkan portofolio merek, Artotel Group memperluas bisnis melalui layanan operator hotel.
Perusahaan menjalin kemitraan dengan berbagai pemilik properti, termasuk institusi pemerintah serta badan usaha milik negara (BUMN) dan badan usaha milik daerah (BUMD).
Sejumlah kerja sama tersebut mencakup pengelolaan hotel di kawasan Dukuh Atas yang terkait dengan pengembangan properti MRT serta hotel di kawasan Taman Ismail Marzuki.
Artotel Group juga menjadi mitra pengelolaan dan pemasaran merek hotel internasional Golden Tulip dan Royal Tulip di Indonesia.
Di tengah ekspansi tersebut, perusahaan turut menekankan pentingnya membangun identitas merek yang kuat untuk menarik mitra bisnis dan investor.
Konsistensi identitas, kualitas layanan, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan pasar menjadi bagian dari strategi pengembangan usaha.
Baca Juga: Wajib Halal 18 Oktober 2026, UMKM Dibayangi Kenaikan Biaya Produksi
Yulia mengatakan, ekspansi perlu disesuaikan dengan kapasitas perusahaan. Peluang bisnis perlu direspons secara cepat, tetapi tetap mempertimbangkan kesiapan operasional dan kekuatan identitas merek.
“Brand identity-nya harus kuat,” kata Yulia.
Artotel Group juga mengandalkan program loyalitas yang diluncurkan pada 2021 untuk menjaga hubungan dengan pelanggan. Berdasarkan pemaparan perusahaan, program tersebut telah memiliki sekitar 1,2 juta anggota.
Program ini diharapkan dapat mendorong kunjungan berulang sekaligus membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
Selain ekspansi bisnis, perusahaan mulai memasukkan aspek keberlanjutan sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha.
Artotel Group menyatakan telah menjalankan program terkait lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG) selama dua tahun terakhir serta memperoleh sertifikasi dari Global Sustainable Tourism Council (GSTC), sebagaimana disampaikan dalam pemaparan perusahaan.
Baca Juga: Investasi AI Terancam Tak Optimal, Perusahaan Perlu Benahi Tata Kelola Data
Melalui diversifikasi merek, kemitraan pengelolaan properti, dan penguatan identitas perusahaan, Artotel Group berupaya memperluas jangkauan pasar tanpa hanya bergantung pada penambahan jumlah kamar.
Kemampuan mengelola beragam merek dan segmen konsumen menjadi salah satu tumpuan perusahaan dalam mengembangkan bisnis perhotelan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














