kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.759.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 18.077   77,00   0,43%
  • IDX 5.840   -101,28   -1,70%
  • KOMPAS100 772   -13,86   -1,76%
  • LQ45 581   -8,07   -1,37%
  • ISSI 203   -2,64   -1,28%
  • IDX30 329   -5,24   -1,57%
  • IDXHIDIV20 407   -5,51   -1,34%
  • IDX80 87   -1,44   -1,63%
  • IDXV30 111   -2,14   -1,88%
  • IDXQ30 106   -1,74   -1,61%

ASAKI Khawatir Harga Gas US$ 15 per MMBTU Gerus Daya Saing


Kamis, 04 Juni 2026 / 16:14 WIB
ASAKI Khawatir Harga Gas US$ 15 per MMBTU Gerus Daya Saing
ILUSTRASI. Keramik Lantai (KONTAN/Carolus Agus Waluyo). Industri keramik nasional menghadapi tantangan baru di tengah upaya meningkatkan utilisasi produksi pada tahun ini.


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - TANGERANG. Industri keramik nasional menghadapi tantangan baru di tengah upaya meningkatkan utilisasi produksi pada tahun ini.

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) mengkhawatirkan lonjakan harga gas yang kini mencapai rata-rata US$ 15 per MMBTU dapat menggerus daya saing industri sekaligus menghambat target peningkatan utilisasi.

Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto mengungkapkan, industri keramik menargetkan tingkat utilisasi mencapai 75% pada 2026, naik dari realisasi 73% pada tahun lalu.

Namun, target tersebut berpotensi terganggu akibat terbatasnya pasokan gas dengan skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT).

Baca Juga: Industri Keramik Siapkan Investasi Rp 25 Triliun hingga 2029

Menurut Edy, saat ini industri keramik hanya memperoleh pasokan HGBT sekitar 40%-45% dari total kebutuhan dengan harga US$ 7 per MMBTU. Adapun sisa kebutuhan harus dipenuhi melalui gas hasil regasifikasi LNG yang harganya mencapai US$ 21 per MMBTU.

"Itu hanya di range 40% sampai 45% yang dengan menggunakan 7 US dollar. Selebihnya kami harus membayar dengan harga regasifikasi LNG yang amat sangat mahal. Harganya 21 US dollar per MMBTU," ujar Edy ditemui usai Pembukaan Pameran Keramika di NICE Tangerang, Kamis (4/6/2026).

Kondisi tersebut membuat rata-rata harga gas yang dibayar industri keramik melonjak menjadi sekitar US$ 15 per MMBTU atau lebih dari dua kali lipat harga HGBT.

Padahal, biaya gas merupakan komponen terbesar dalam struktur biaya produksi industri keramik. ASAKI mencatat kontribusi biaya energi terhadap total biaya produksi kini telah meningkat menjadi lebih dari 45%.

Sebagai perbandingan, saat kebijakan HGBT mulai diterapkan pada 2020 dengan harga gas sekitar US$ 6 per MMBTU, porsi biaya energi terhadap total biaya produksi masih berada di kisaran 27%-28%.

Baca Juga: Utilisasi Industri Keramik Diproyeksi Tembus 75% pada 2026

ASAKI khawatir kondisi tersebut akan menghambat upaya industri meningkatkan utilisasi pabrik. Apalagi industri keramik domestik juga harus menghadapi tekanan dari produk impor di tengah kondisi kelebihan kapasitas produksi global, khususnya dari China dan India.

Menurut Edy, semakin tinggi tingkat utilisasi maka kebutuhan gas industri juga akan meningkat. Tanpa pasokan gas yang memadai dengan harga kompetitif, daya saing industri nasional berpotensi tergerus.

"Nah inilah yang kami khawatir ini akan mengganggu targetnya kami untuk meningkatkan utilisasi. Kenapa? Karena makin banyak kami produksi, utilisasi semakin tinggi, harga gas akan semakin tinggi otomatis nih," ujarnya.

ASAKI sebelumnya menargetkan utilisasi industri keramik dapat mencapai 75% pada 2026, meningkat dari posisi semester I-2026 yang berada di level 72,5%.

Bahkan, asosiasi membidik utilisasi bisa menembus di atas 80% pada 2027 apabila pasokan gas tersedia secara penuh dan harga gas tetap kompetitif.

Meski biaya produksi meningkat, pelaku industri mengaku belum dapat sepenuhnya meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen.

Baca Juga: Harga Gas Naik Lebih dari 60%, Industri Keramik Masuk Mode Darurat

Persaingan dengan produk impor dan kondisi daya beli masyarakat membuat perusahaan lebih memilih melakukan efisiensi internal.

"Kami tidak mungkin membebani kenaikan biaya gas ini ke konsumen karena kita tahu satu bahwa ada ancaman barang impor ya kan, kedua daya beli masyarakat kan juga menjadi prioritas utamanya kita," kata Edy.

Sementara itu, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Reza mengakui harga gas masih menjadi tantangan bagi industri manufaktur nasional. Pemerintah, kata dia, akan terus berkomunikasi dengan perusahaan penyedia gas untuk menjaga daya saing sektor industri.

"Harga gas masih challenging ya, kami akan terus komunikasi dengan perusahaan-perusahaan sebagai penyedia gas di dalam negeri. Terutama perusahaan-perusahaan BUMN. Mudah-mudahan dengan melihat peluang yang ada seperti sekarang kalau ekspansi industri keramiknya makin besar, tentunya penggunaan gas lebih banyak dan tentu ini menjadi peluang pasar buat industri penyedia gas," ujar Faisol.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×