kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.759.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 18.077   77,00   0,43%
  • IDX 5.840   -101,28   -1,70%
  • KOMPAS100 772   -13,86   -1,76%
  • LQ45 581   -8,07   -1,37%
  • ISSI 203   -2,64   -1,28%
  • IDX30 329   -5,24   -1,57%
  • IDXHIDIV20 407   -5,51   -1,34%
  • IDX80 87   -1,44   -1,63%
  • IDXV30 111   -2,14   -1,88%
  • IDXQ30 106   -1,74   -1,61%

Utilisasi Industri Keramik Diproyeksi Tembus 75% pada 2026


Kamis, 04 Juni 2026 / 15:46 WIB
Utilisasi Industri Keramik Diproyeksi Tembus 75% pada 2026
ILUSTRASI. Utilisasi Industri Keramik Diproyeksi Tembus 75% pada 2026 (KONTAN/Diki Mardiansyah.)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - TANGERANG. Industri keramik nasional mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang kuat setelah sempat tertekan dalam beberapa tahun terakhir.

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) optimistis tingkat utilisasi pabrik keramik sepanjang 2026 dapat mencapai 75%, lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun lalu yang sebesar 73%.

Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto mengungkapkan, kinerja industri keramik terus membaik seiring meningkatnya permintaan domestik serta dukungan berbagai kebijakan pemerintah.

"Kami menargetkan bahwa angka utilisasi 75% adalah angka yang sangat realistis untuk kami capai," ujar Edy dalam pembukaan Keramika Expo Indonesia 2026, Kamis (4/6/2026).

Menurut Edy, posisi utilisasi saat ini masih tergolong normal lantaran sejumlah produsen memanfaatkan masa libur Lebaran untuk melakukan overhaul dan peremajaan mesin produksi.

Baca Juga: Industri Keramik Masuk Fase Darurat, Harga Gas Melonjak 60% PGN Janji Jaga Pasokan

ASAKI mencatat utilisasi industri keramik sempat terpuruk dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023 tingkat utilisasi berada di level 69%, kemudian turun menjadi 66% pada 2024 akibat lemahnya permintaan dan tingginya tekanan impor. Namun pada 2025 utilisasi berhasil pulih ke level 73%.

Tren pemulihan tersebut ditopang oleh meningkatnya permintaan pasar domestik yang menyerap sekitar 95% produksi industri keramik nasional.

Edy menjelaskan, sejumlah program pemerintah turut menjadi penopang utama permintaan keramik, mulai dari program pembangunan 3 juta rumah, renovasi sekolah, pembangunan Sekolah Rakyat, renovasi rumah tidak layak huni, hingga pembangunan berbagai fasilitas publik.

"Jadi program-program pemerintah ini luar biasa bermanfaat sehingga ini juga memberikan dukungan kepada kami sehingga tingkat utilisasi yang tadi saya sampaikan, kita ini rebound kembali," katanya.

Bahkan, ASAKI menargetkan utilisasi industri keramik dapat menembus level 80% pada tahun depan dengan catatan pasokan gas industri tetap terjaga dan harga gas tetap kompetitif.

"Jadi program-program pemerintah ini luar biasa bermanfaat sehingga ini juga memberikan dukungan kepada kami sehingga tingkat utilisasi yang tadi saya sampaikan, kita ini rebound kembali," tambah Edy.

Baca Juga: Harga Gas Industri Melonjak 60%, ASAKI Sebut Industri Keramik Masuk Fase Darurat

Sejalan dengan membaiknya utilisasi, industri keramik juga terus melakukan ekspansi kapasitas produksi. ASAKI mencatat kapasitas terpasang industri keramik nasional meningkat dari 538 juta meter persegi per tahun pada 2021 menjadi 650 juta meter persegi pada 2025 atau tumbuh sekitar 25%.

Pada 2026 kapasitas tersebut diproyeksikan kembali meningkat menjadi 672 juta meter persegi per tahun dan diperkirakan mencapai 728 juta meter persegi pada 2029.

Jika target utilisasi 75% tercapai tahun ini, maka volume produksi industri keramik nasional berpotensi mencapai sekitar 504 juta meter persegi, naik dibandingkan realisasi produksi tahun lalu yang diperkirakan sekitar 475 juta meter persegi.

Di tengah tren penurunan produksi keramik global, kinerja industri keramik Indonesia justru bergerak berlawanan arah. ASAKI mencatat produksi keramik dunia turun dari puncaknya 15,9 miliar meter persegi pada 2021 menjadi sekitar 11,3 miliar meter persegi pada 2024 dan diperkirakan berada di bawah 11 miliar meter persegi pada 2025.

Sebaliknya, produsen keramik nasional terus menambah kapasitas untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.

Baca Juga: Utilisasi Produksi Keramik Di Bawah Ekspektasi, Melandai ke 70% pada Kuartal I-2026

ASAKI memperkirakan tambahan kapasitas industri keramik sepanjang periode 2020-2029 mencapai 190 juta meter persegi. Penambahan tersebut setara sekitar 2,5 kali lipat dibandingkan volume impor keramik tertinggi yang pernah terjadi pada 2024 sebesar 78 juta meter persegi.

Menurut Edy, kondisi tersebut menjadi bukti bahwa industri keramik nasional telah mencapai tahap swasembada dan mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik tanpa bergantung pada impor.

"Kami sudah memasuki fase swasembada keramik. Kapasitas yang ada saat ini mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri," ujarnya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Reza menyampaikan industri keramik menjadi salah satu kontributor penting pertumbuhan subsektor barang galian bukan logam yang tumbuh 9,12% pada kuartal I-2026.

Faisol menilai, dengan kapasitas terpasang mencapai 650 juta meter persegi per tahun dan tingkat utilisasi 73%, industri keramik nasional masih memiliki ruang ekspansi yang besar.

Kementerian Perindustrian juga menilai peluang ekspor masih terbuka lebar mengingat tingkat pemanfaatan kapasitas industri belum mencapai level optimal. Saat ini, kontribusi ekspor industri keramik nasional baru sekitar 3% dari total produksi.

Baca Juga: Industri Keramik (Asaki) Ungkap Tertekan Pasokan Gas Seret dan Pelemahan Rupiah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×