kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   8.000   0,31%
  • USD/IDR 18.109   16,00   0,09%
  • IDX 5.050   20,17   0,40%
  • KOMPAS100 649   1,43   0,22%
  • LQ45 518   4,63   0,90%
  • ISSI 164   -2,40   -1,44%
  • IDX30 292   2,74   0,95%
  • IDXHIDIV20 394   5,37   1,38%
  • IDX80 75   0,27   0,36%
  • IDXV30 108   0,37   0,34%
  • IDXQ30 99   1,18   1,21%

ASEAN Berpeluang Hemat US$ 610 Juta Lewat Skema Cadangan Minyak Bersama


Jumat, 06 November 2026 / 19:02 WIB
ASEAN Berpeluang Hemat US$ 610 Juta Lewat Skema Cadangan Minyak Bersama
ILUSTRASI. Harga Minyak Dunia (REUTERS/Shannon Stapleton)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kerja sama penyediaan cadangan minyak darurat antarnegara ASEAN berpotensi menjadi solusi untuk memperkuat ketahanan energi kawasan sekaligus menekan biaya hingga US$ 610 juta per tahun. Skema ini dinilai lebih efisien dibandingkan jika setiap negara membangun dan mengelola cadangan minyak secara mandiri.

Berdasarkan studi Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), penyediaan dan penyimpanan cadangan minyak tambahan melalui skema kerja sama regional diperkirakan membutuhkan biaya US$ 2,19 miliar per tahun. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan biaya US$ 2,80 miliar per tahun apabila setiap negara mengandalkan cadangan nasional.

Dengan jumlah cadangan tambahan yang sama, skema regional tersebut berpotensi menekan biaya sekitar 22%. Perhitungan ini mengasumsikan cadangan tetap dimiliki produsen atau mitra, sedangkan negara peserta memperoleh hak untuk menggunakannya berdasarkan kesepakatan.

Baca Juga: Gapmmi Optimistis Industri Makanan dan Minuman Tumbuh di Atas 6% pada 2026

Chief Operating Officer ERIA Takayuki Yamanaka mengatakan, gangguan pasokan energi global menunjukkan pentingnya kesiapan dan kerja sama antarnegara dalam menghadapi tantangan energi. Penguatan ketahanan energi juga perlu berjalan seiring dengan pertumbuhan hijau dan transformasi digital untuk meningkatkan daya saing serta integrasi ekonomi kawasan.

Ekonom Energi Senior ERIA  Han Phoumin mengatakan, skema hak penggunaan cadangan darurat perlu didukung prosedur yang jelas agar dapat diterapkan ketika terjadi gangguan pasokan.

"Hak untuk menggunakan cadangan darurat baru merupakan langkah awal. Setiap negara perlu memiliki prosedur yang jelas untuk mengeluarkan cadangan, bahan bakar yang sesuai dengan kebutuhan, dan sarana untuk mengirimkannya ke tempat yang membutuhkan. Melalui uji coba sukarela, pemerintah dan operator dapat menguji apakah semua itu berjalan dengan baik sebelum pasokan terganggu," ujar Han dalam 2nd East Asia Media Caucus di Jakarta, Jumat (6/11/2026).

Meski demikian, skema cadangan minyak bersama tersebut masih berupa rekomendasi ERIA dan memerlukan pertimbangan serta persetujuan pemerintah terkait. Biaya pengiriman darurat dan pengisian kembali cadangan juga belum termasuk dalam perhitungan penghematan tersebut.

Selain ketahanan energi, ERIA menyoroti tantangan peningkatan daya saing industri ASEAN di tengah tuntutan transisi menuju ekonomi hijau dan pemanfaatan teknologi digital. Kedua agenda tersebut dinilai penting untuk membantu pelaku usaha beradaptasi terhadap perubahan global sekaligus menangkap peluang pertumbuhan ekonomi baru.

Senior Policy Fellow ERIA Intan Murnira Ramli mengatakan, daya saing ASEAN ke depan akan bergantung pada kemampuan kawasan dalam memadukan pertumbuhan hijau, transformasi digital, dan integrasi regional.

Baca Juga: Kemenpar Bidik Kunjungan Wisatawan ASEAN-Korea Tembus 20 Juta

Survei ERIA terhadap perusahaan Jepang yang beroperasi di ASEAN menunjukkan, sebanyak 53,3% perusahaan yang disurvei telah mengambil langkah untuk mengurangi emisi karbon. Namun, hanya 7,1% yang melaporkan telah beralih ke pemasok dengan emisi lebih rendah atau mendorong pemasok mereka mengurangi emisi.

Survei terpisah terhadap perusahaan lokal ASEAN juga menunjukkan bahwa usaha kecil lebih jarang mengambil langkah pengurangan emisi dibandingkan perusahaan besar. Keterbatasan pendanaan dan kemampuan teknis menjadi salah satu kendala yang dihadapi.

Kesenjangan juga terlihat dalam penerapan teknologi digital. Sebanyak 70,8% perusahaan Jepang yang disurvei menyebut kekurangan tenaga kerja dengan keterampilan digital sebagai hambatan. Sementara itu, 64,7% responden menyoroti tingginya biaya penerapan teknologi.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, ERIA menilai perlu ada investasi dalam pengembangan keterampilan dan teknologi serta perluasan akses pembiayaan agar lebih banyak pelaku usaha, termasuk usaha kecil, dapat beradaptasi.

Forum tersebut turut membahas penyelarasan standar dan penguatan konektivitas antarnegara untuk mendukung daya saing industri kawasan. Salah satu peluang yang disoroti adalah ASEAN Green Economy Framework Agreement (GEFA), yang diharapkan dapat mendorong investasi dan membuka peluang usaha di sektor ekonomi hijau.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×