Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - SENTUL, BOGOR. Industri makanan dan minuman (mamin) nasional diperkirakan masih mampu menjaga momentum pertumbuhan di tengah tekanan kenaikan biaya produksi dan mahalnya ongkos logistik. Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) pun membidik pertumbuhan industri mamin di atas 6% sepanjang 2026.
Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman mengatakan, optimisme tersebut didukung oleh permintaan pasar yang masih cukup baik. Selain itu, sejumlah subsektor mamin masih menunjukkan kinerja positif, bahkan mampu membukukan pertumbuhan hingga dua digit.
"Saya masih optimistis bisa di atas 6%. Karena makanan minuman itu sektornya banyak, kategorinya banyak. Jadi ada industri-industri yang cukup bagus," kata Adhi ditemui usai Media Gathering FORWIN 2026 di Sentul, Bogor, Jumat (6/11/2026).
Menurut Adhi, beberapa subsektor yang mencatatkan pertumbuhan cukup kuat antara lain industri bumbu-bumbuan, air minum dalam kemasan (AMDK), serta makanan beku atau frozen food.
"Industri bumbu-bumbuan, industri air minum dalam kemasan, frozen food itu bagus pertumbuhannya, bahkan ada yang double digit," ujarnya.
Baca Juga: Kemenpar Bidik Kunjungan Wisatawan ASEAN-Korea Tembus 20 Juta
Meski demikian, pertumbuhan industri mamin belum merata di seluruh kategori produk. Adhi menyebut, subsektor yang menghasilkan produk bersifat sekunder, seperti permen dan minuman jus, masih menghadapi tekanan permintaan.
Hal ini lantaran produk-produk tersebut relatif lebih sensitif terhadap perubahan harga dan memiliki segmen pasar yang lebih terbatas dibandingkan kebutuhan pokok.
Di samping tantangan permintaan, pelaku industri juga masih dibayangi kenaikan biaya produksi. Adhi menjelaskan, ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat industri mamin rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah. Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya pengadaan bahan baku dan menekan margin usaha.
Tekanan juga datang dari tingginya ongkos logistik internasional. Adhi mencontohkan, biaya pengiriman kontainer ke Australia yang sebelumnya berkisar US$ 1.000 kini meningkat menjadi sekitar US$ 3.000 per kontainer.
Sementara itu, biaya pengiriman ke China yang semula sekitar US$ 200–US$ 300 naik menjadi US$ 700–US$ 800 per kontainer.
"Industri kita masih cukup bagus sebenarnya, tapi banyak hambatan-hambatan, mungkin ini menjadi tantangan kita," jelasnya.
Adhi menilai, kombinasi kenaikan harga bahan baku dan ongkos logistik tersebut berpotensi mendorong penyesuaian harga jual produk makanan dan minuman pada awal 2027.
Kendati demikian, perusahaan mamin skala menengah dan besar dinilai masih memiliki ruang untuk menahan tekanan biaya. Pasalnya, sebagian perusahaan masih mempunyai kontrak pengadaan bahan baku dengan harga sebelumnya serta persediaan stok yang dapat dimanfaatkan untuk sementara waktu.
Adhi memperkirakan kenaikan harga jual produk mamin secara rata-rata berada di kisaran 5%–6%. Namun, pelaku usaha perlu mempertimbangkan daya beli masyarakat karena konsumen produk makanan dan minuman relatif sensitif terhadap perubahan harga.
Baca Juga: Oversupply Global Bayangi Industri Petrokimia Indonesia pada 2027
"Rata-rata kalau saya lihat industri mamin itu sekitar 5%-6%. Itu pun sudah cukup tinggi, karena price sensitive," kata Adhi.
Berbeda dengan perusahaan menengah dan besar, industri kecil dan menengah (IKM) dinilai memiliki kemampuan yang lebih terbatas dalam menyerap kenaikan biaya produksi.
Menurut Adhi, sebagian pelaku IKM hanya memiliki persediaan bahan baku untuk memenuhi kebutuhan produksi selama beberapa hari. Dengan kondisi tersebut, kenaikan harga bahan baku akan lebih cepat memengaruhi biaya operasional mereka.
Untuk menjaga keberlangsungan usaha sekaligus mempertahankan keterjangkauan harga bagi konsumen, pelaku IKM dihadapkan pada dua pilihan, yakni menaikkan harga jual atau mengurangi ukuran produk.
"Kalau enggak naik harga ya mengurangi ukuran," ujarnya.
Di tengah tekanan tersebut, Gapmmi berharap pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah guna mengurangi risiko kenaikan biaya bahan baku impor.
Selain itu, penguatan ketersediaan dan pasokan bahan baku dari dalam negeri juga menjadi salah satu agenda penting bagi industri mamin. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus menjadi strategi jangka panjang untuk menjaga efisiensi biaya dan daya saing industri makanan dan minuman nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
