Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 di Cebu, Filipina, membahas sejumlah rencana pembangunan terkait infrastruktur energi di kawasan Asia Tenggara. Salah satu rencana yang tercetus di KTT kali ini adalah pembagunan fasilitas penyimpanan cadangan (storage) minyak.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia turut hadir dalam KTT ASEAN mendampingi Presiden Prabowo Subianto. Bahlil mengatakan bahwa Indonesia mengajak ASEAN untuk melakukan kerja sama yang saling menguntungkan di sektor energi.
Kerja sama ini menjadi krusial lantaran di tengah kondisi geopolitik saat ini, hampir semua negara dan kawasan melakukan proteksi demi kepentingan internal. Indonesia mengusulkan untuk memperkuat kerja sama kawasan, terutama dengan negara yang saling bertetangga seperti dengan Malaysia, Brunei, dan Filipina.
Baca Juga: Fore Kopi (FORE) Targetkan Tambah 100 Gerai, Bidik Laba Bersih Tumbuh 70% pada 2026
"Kemarin (di KTT) merumuskan dua hal. Kita bikin ada hub storage, cadangan minyak untuk ASEAN. Iini adalah ide yang bagus, kita membangun storage dimana saja. Tapi kemarin saya tawarkan untuk di Indonesia. Kita membangun cadangan yang cukup besar, yang pada akhirnya kemudian ini menyuplai ke negara-negara di Asia Tenggara," kata Bahlil di Kementerian ESDM, Senin (11/5/2026).
Terlepas dari ide membangun storage cadangan minyak ASEAN, Bahlil menegaskan bahwa Indonesia sedang berproses untuk membangun storage nasional dengan skala yang besar. Bahlil menyatakan, studi kelayakan atau Feasibility Study (FS) sedang berjalan. Adapun, pembangunan storage cadangan minyak nasional ini akan berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus di daerah Sumatra.
"Ide yang dilakukan oleh ASEAN itu adalah sebuah ide baik, tapi ide itu muncul di saat kita sudah siap untuk mengimplementasikan. Kita rencana bangun kawasan itu di Sumatra. Kita akan bikin Kawasan Ekonomi Khusus, yang pada akhirnya kemudian itu menjadi cadangan penyangga nasional," jelas Bahlil.
Selain rencana membangun storage minyak untuk kawasan, KTT ASEAN juga membahas optimalisasi penggunaan potensi energi baru dan terbarukan sebagai upaya untuk mengamankan pasokan sumber daya energi. Dalam hal ini, Indonesia mengusung target Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Gigawatt dan implementasikan biodiesel 50% atau B50.
Interkoneksi Jaringan Listrik
Bahlil menambahkan, KTT kali ini juga membahas penguatan kerja sama antara Indonesia dengan Malaysia untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan sistem interkoneksi jaringan listrik atau power grid. Kerja sama ini juga akan melibatkan negara tetangga lainnya, yakni Filipina.
Baca Juga: Harga Aluminium Global Naik, Dampak Bagi Industri Kemasan Kaleng Masih Terbatas
"Kami juga melakukan komunikasi intens dengan beberapa delegasi menyangkut dengan power grid. Sekarang kan kita sudah bangun jaringan antara Malaysia, Indonesia. Sebentar lagi akan masuk Filipina," imbuh Bahlil.
Bahlil mengatakan, Singapura juga ingin terlibat dalam kerja sama interkoneksi jaringan listrik ini. Tetapi, Bahlil menegaskan bahwa perlu ada pembahasan yang lebih mendalam, terutama menyangkut dengan tarif ekspor-impor listrik agar bisa saling menguntungkan.
Menurut Bahlil, kesepakatan ekspor-impor listrik antara Indonesia dengan Malaysia bisa menjadi contoh kesepakatan yang saling menguntungkan kedua negara. "Memang Singapura minta. Ini sebenarnya ide yang bagus selama saling menguntungkan. Tapi untuk Singapura, kita juga akan ekspor tapi harganya juga harus cengli. Selama itu belum kita bicara tentang win-win, maka saya pikir penting untuk melakukan kajian lebih mendalam," tandas Bahlil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













