Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi sebesar 2,14%. Kondisi ini terjadi ketika hampir seluruh lapangan usaha naik menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 yang mencapai 5,61% secara tahunan atau year on year (yoy).
Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Gita Mahyarani menyatakan bahwa data BPS tersebut cukup menggambarkan kondisi di lapangan. Gita menyoroti, sektor pertambangan tidak hanya menghadapi tekanan harga, tetapi juga tekanan dari sisi volume, biaya, dan kepastian usaha.
Pada komoditas batubara, salah satu faktor yang terasa adalah adanya penyesuaian produksi, termasuk melalui proses Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Hal ini menyebabkan ruang produksi dan penjualan perusahaan menjadi lebih terbatas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Baca Juga: Telkom Satelit Genjot Layanan End User, Bergeser dari Bandwidth ke Solusi Digital
Menginjak kuartal II-2026, Gita memandang outlook pertambangan batubara masih menantang. Meski begitu, ada secercah harapan untuk memperbaiki prospek kinerja seiring dengan sinyal perbaikan pasar.
"Untuk kuartal II-2026, kami melihat kondisinya masih menantang dalam jangka pendek. Memang ada beberapa sinyal pasar yang mulai membaik, terutama dari pergerakan harga dan permintaan di Asia. Sejumlah analis juga melihat tekanan penurunan harga mulai lebih terbatas," kata Gita kepada Kontan.co.id, Selasa (12/5/2026).
Hanya saja, Gita mengingatkan bahwa bagi pelaku usaha di dalam negeri, tantangan utamanya bukan hanya soal harga. Tetapi juga ruang produksi, kepastian RKAB, biaya operasi, kelancaran ekspor, dan arus kas (cash flow).
"Jadi, peluang perbaikan tetap ada, tetapi belum otomatis tercermin pada kinerja sektor apabila volume produksi dan ekspor masih terbatas. Kuartal kedua kemungkinan masih menjadi periode konsolidasi, sambil menunggu kejelasan kebijakan dan ruang penyesuaian yang lebih fleksibel bagi perusahaan," imbuh Gita.
Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menyoroti kontraksi di sektor pertambangan yang melebihi level 2% pada awal tahun ini. Ketua Komite Pertambangan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Apindo Hendra Sinadia mengungkapkan bahwa tren pertumbuhan di sektor pertambangan dan penggalian yang dalam tiga tahun terakhir telah menunjukkan indikasi kontraksi.
Baca Juga: UBC Medical (LABS) Siapkan Alat Deteksi Dini Cegah Penyebaran Hantavirus
Dus, data BPS pada kuartal I-2026 mencerminkan belum adanya pertumbuhan (yoy) di sektor pertambangan dan penggalian. Menurut Hendra, rencana investasi pelaku usaha terdampak oleh beberapa perubahan regulasi yang berpengaruh secara signifikan. Terutama oleh kenaikan tarif royalti dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2025.
Pelaku usaha juga berhadapan dengan pemangkasan produksi yang signifikan, khususnya pada komoditas batubara yang menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan di sektor pertambangan. Selain itu wacana kenaikan tarif royalti dalam revisi PP No. 39/2025 juga akan menekan sektor pertambangan termasuk revisi aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE).
"Kemungkinan besar pada kuartal kedua masih berpotensi terjadinya kontraksi pertumbuhan. Dengan berbagai perubahan regulasi kebijakan sulit untuk bisa mengharapkan perbaikan dalam pertumbuhan sektor pertambangan di sisi 2026," kata Hendra kepada Kontan.co.id, Senin (11/5/2026).
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi dan Pemberdayaan Daerah Kadin Erwin Aksa membenarkan bahwa data BPS yang mencatat kontraksi sektor pertambangan dan penggalian cukup merefleksikan kondisi riil di lapangan. Pada awal 2026, Erwin menyatakan sektor ini menghadapi tekanan yang tidak ringan.
Menurut Erwin, kontraksi di sektor pertambangan dan penggalian bukan semata disebabkan penurunan produksi. Tetapi merupakan kombinasi dari pelemahan permintaan global, fluktuasi harga komoditas, tekanan biaya operasional, serta proses penyesuaian di beberapa subsektor tambang.
"Untuk sisa tahun 2026, khususnya kuartal kedua, Kadin melihat peluang perbaikan tetap terbuka. Meskipun pemulihannya kemungkinan berlangsung bertahap dan belum merata di semua komoditas," kata Erwin.
Erwin memprediksi permintaan dari kawasan Asia masih menjadi penopang utama, terutama untuk komoditas yang terkait hilirisasi, energi, dan kebutuhan industri strategis. Hanya saja, di sisi lain Erwin mengingatkan bahwa tantangan yang akan dihadapi oleh sektor pertambangan dan penggalian masih cukup besar.
Ketidakpastian geopolitik global, fluktuasi harga minyak dan komoditas, tekanan kurs, hingga potensi perlambatan ekonomi dunia masih menjadi faktor yang membuat pelaku usaha cenderung berhati-hati. Selain itu, Kadin menegaskan bahwa industri ini juga membutuhkan kepastian regulasi, percepatan perizinan, dan dukungan infrastruktur agar investasi di sektor tambang tetap berjalan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













