Reporter: Anna Suci Perwitasari | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Star Energy Geothermal Indonesia yang merupakan anak usaha Barito Renewables (BREN) menyelesaikan tahap eksplorasi panas bumi di prospek Gunung Hamiding, Kabupaten Halmahera Utara.
Hasil eksplorasi tersebut mengonfirmasi potensi pembangkitan listrik sekitar 55–60 megawatt (MW).
Penyelesaian tahap eksplorasi Gunung Hamiding dilakukan sebagai bagian dari pengembangan proyek panas bumi yang dijalankan secara bertahap dan sesuai dengan ketentuan Kementerian ESDM.
Presiden Direktur Barito Renewables Hendra Soetjipto Tan mengatakan, penyelesaian eksplorasi tersebut dan menyatakan bahwa proyek ini menjadi dasar bagi pengembangan panas bumi di wilayah Halmahera.
Baca Juga: DEN: Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Tak Gantikan PLTU dalam Waktu Dekat
“Pencapaian ini merupakan tonggak penting dalam pengembangan bertahap perusahaan kami menuju pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi tahap awal berkapasitas 50 MW di wilayah Halmahera. Ini mencerminkan komitmen kami untuk menyediakan energi bersih dan andal sekaligus mendukung transisi Indonesia menuju masa depan energi yang berkelanjutan,” ujar Hendra dalam rilis yang diterima KONTAN, Selasa (13/1/2026) malam.
Penugasan eksplorasi panas bumi Gunung Hamiding diberikan oleh pemerintah yang meliputi melalui Keputusan Menteri No. 0459K/30/MEM/2013. Program eksplorasi meliputi survei geologi, geokimia, geofisika, dan geoteknik, yang dilanjutkan dengan pekerjaan sipil serta pengeboran eksplorasi.
Untuk menunjang kegiatan tersebut, Star Energy Geothermal Indonesia juga melakukan pembangunan dan peningkatan infrastruktur. Kegiatan ini mencakup penambahan jalan akses sepanjang 7,7 kilometer dari jalur yang telah ada, pembangunan 13,8 kilometer jalan baru, tiga jembatan, serta satu well pad.
Selain mendukung bauran energi bersih nasional, proyek tersebut juga diarahkan untuk memberikan dampak lingkungan dan sosial.
Pengembangan panas bumi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menekan emisi gas rumah kaca.
Di sisi sosial, Star Energy Geothermal Indonesia bekerja sama dengan masyarakat dan pemangku kepentingan lokal untuk mendorong penciptaan lapangan kerja, peningkatan infrastruktur, serta pelaksanaan program sosial di Kabupaten Halmahera Utara.
Pengembangan proyek tersebut menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengoptimalkan pemanfaatan panas bumi di tingkat nasional.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Indonesia saat ini mencapai 2.744 MW. Ini membuat Indonesia menempati posisi kedua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dengan kapasitas 3.937 MW.
Meski demikian, pemanfaatan panas bumi nasional masih berada di kisaran 10% dari total potensi yang tersedia.
Sebelumnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyampaikan, “Kita tahu bahwa geothermal adalah salah satu sumber energi baru terbarukan, dan Indonesia mempunyai cadangan yang cukup besar, terbesar di dunia. Dan dari sini, baru kurang lebih sekitar 10% yang bisa kita kelola. Artinya masih ada 90% potensi ini,” ujarnya pada beberapa waktu lalu.
Untuk mendukung pengembangan energi baru terbarukan, pemerintah juga menyiapkan penguatan infrastruktur kelistrikan.
Melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah merencanakan pembangunan jaringan transmisi sepanjang 48.000 kilometer sirkuit guna menghubungkan sumber-sumber energi baru, termasuk panas bumi, dengan sistem kelistrikan nasional.
Selanjutnya: Zodiak Mana Paling Cuan? Strategi Diplomasi Taurus Bawa Keuntungan
Menarik Dibaca: Zodiak Mana Paling Cuan? Strategi Diplomasi Taurus Bawa Keuntungan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













