kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.652.000   21.000   0,80%
  • USD/IDR 16.889   19,00   0,11%
  • IDX 8.948   63,58   0,72%
  • KOMPAS100 1.240   13,93   1,14%
  • LQ45 879   12,32   1,42%
  • ISSI 327   2,65   0,82%
  • IDX30 449   8,13   1,84%
  • IDXHIDIV20 531   10,57   2,03%
  • IDX80 138   1,59   1,17%
  • IDXV30 147   2,50   1,73%
  • IDXQ30 144   2,26   1,60%

DEN: Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Tak Gantikan PLTU dalam Waktu Dekat


Rabu, 14 Januari 2026 / 05:44 WIB
DEN: Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Tak Gantikan PLTU dalam Waktu Dekat
ILUSTRASI. Meskipun PLTN dibangun, 60% listrik nasional masih ditopang PLTU. DEN jelaskan fungsi ganda nuklir sebagai penyeimbang pasokan EBT.


Reporter: Leni Wandira | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dewan Energi Nasional (DEN) menegaskan, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) tidak serta-merta akan memensiunkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara dalam waktu dekat.

Asal tahu saja, sekitar 60% produksi listrik nasional masih ditopang oleh PLTU.

Sekretaris Jenderal DEN Dadan Kusdiana mengatakan, keberadaan PLTN dan PLTU ke depan akan berjalan beriringan dalam kerangka menjaga ketahanan energi nasional sekaligus menurunkan emisi karbon.

“PLTU masih ada, PLTN-nya masih ada. Sehingga fokusnya untuk ketahanan energi dan dekarbonisasi. Nah ini berjalan. Jadi ke depan itu akan didorong bagaimana pembangkit yang semakin bersih, semakin berkurang emisinya,” ujar Dadan dalam acara Kaleidoskop Energi oleh Purnomo Yusgiantoro Center di Jakarta, Selasa (13/1/2026).

Baca Juga: Transisi Energi Dipercepat, B50 dan PLTN Jadi Andalan Ketahanan Energi 2026

Menurut Dadan, PLTN diposisikan sebagai alternatif pembangkit base load untuk menyeimbangkan pasokan listrik dari Energi Baru Terbarukan (EBT) yang bersifat fluktuatif. Dengan karakteristik tersebut, PLTN dinilai mampu menyediakan pasokan listrik yang stabil dan berkelanjutan.

Sebagai pembangkit beban dasar, PLTN juga dikategorikan ramah lingkungan karena menghasilkan emisi karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan pembangkit berbasis fosil. Sejumlah negara telah menjadikan energi nuklir sebagai bagian dari strategi transisi energi untuk menekan emisi sekaligus menjaga keandalan sistem kelistrikan.

“Kalau kita ingin mendorong pembangkit EBT lebih banyak, maka perlu pembangkit yang bisa menyeimbangkan dan menjadi base load. PLTN itu sama-sama bersih dan bisa menjalankan fungsi tersebut,” kata Dadan.

Untuk mempercepat realisasi pembangunan PLTN, DEN telah menginisiasi pembentukan Nuclear Energy Program Implementation Organization (NEPIO).

Struktur organisasi NEPIO telah dibahas dan diharmonisasi lintas kementerian, termasuk dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dan kini telah dirumuskan dalam bentuk peraturan presiden.

“Perpresnya sudah di meja Pak Presiden dan tinggal menunggu proses pengesahan,” ujarnya.

Baca Juga: Tangkap Peluang Bisnis 2026, Semen Indonesia (SMGR) Perkuat Kolaborasi Strategis

NEPIO dirancang bersifat ad hoc dan akan mengintegrasikan fungsi dari sejumlah institusi yang telah ada. Setelah Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dilebur ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), lembaga tersebut juga direncanakan menjadi bagian dari struktur NEPIO.

“BRIN akan menjadi bagian dari organisasi ini, meskipun detailnya masih menunggu penetapan,” pungkas Dadan.

Selanjutnya: Tak Hanya Global, Pasar Juga Menyorot Fiskal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×