Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Transmigrasi menjajaki peluang transfer teknologi pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy (WtE) dari China untuk mendukung pengembangan infrastruktur pengelolaan sampah di Indonesia.
Batam, Kepulauan Riau, menjadi salah satu wilayah yang dipertimbangkan untuk penerapan teknologi tersebut.
Baca Juga: Investor Makin Selektif, Permintaan Lahan Kawasan Industri Tetap Tumbuh
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan, penjajakan kerja sama tidak hanya berorientasi pada pengadaan teknologi, tetapi juga peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan penguasaan teknologi oleh masyarakat Indonesia.
“Kita juga ingin kerja sama yang terjalin tidak hanya menjual produk, tetapi kita juga ingin masyarakat diberdayakan melalui transfer pengetahuan dan kemudian bisa untuk transfer teknologi,” ujar Iftitah saat mengunjungi Sanfeng Environment Group di Chongqing, China, dikutip dari keterangan resmi, Minggu (18/10/2026).
Sanfeng Environment Group merupakan perusahaan yang mengembangkan teknologi pengolahan sampah perkotaan menjadi listrik.
Perusahaan tersebut mulai mengadopsi teknologi dari Jerman pada 2000, sebelum mengembangkan kemampuan rekayasa, manufaktur peralatan, hingga pengoperasian fasilitas secara mandiri.
Baca Juga: Revisi RKAB 2026 Disetujui, Segini Kuota Produksi Batubara dan Nikel
Dalam kunjungan tersebut, delegasi Kementerian Transmigrasi mempelajari fasilitas pengolahan sampah dengan kapasitas sekitar 3.000 ton per hari.
Iftitah menilai, Batam memiliki peluang untuk mengembangkan teknologi WtE seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas industri yang meningkatkan kebutuhan pengelolaan sampah.
Pemanfaatan sampah sebagai sumber energi juga berpotensi membuka peluang pengembangan infrastruktur dan kegiatan ekonomi berbasis teknologi pengolahan limbah.
Kementerian Transmigrasi telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Batam untuk menjajaki kerja sama dengan mitra teknologi yang sesuai.
Namun, rencana tersebut masih memerlukan kajian awal untuk memastikan kelayakan teknis, ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan sebelum keputusan investasi maupun pelaksanaan proyek ditetapkan.
Baca Juga: Lion Parcel Perkuat Strategi Jemput Peluang Ekspor
“Untuk membuat hal seperti ini, sebetulnya yang harus kita miliki adalah goodwill. Bukan by project, tetapi kita harus tahu teknologi ini dipakai untuk apa,” kata Iftitah.
Menurut dia, penerapan teknologi pengolahan sampah harus disesuaikan dengan kebutuhan daerah dan kesiapan pengelolaan.
Dengan begitu, pengembangan proyek tidak hanya berorientasi pada pembangunan fasilitas, tetapi juga mampu memberikan manfaat jangka panjang.
Iftitah menambahkan, pengalaman China dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia dalam membangun kemandirian industri pengolahan sampah. Penguasaan teknologi, menurutnya, perlu didukung pendidikan, penelitian, kemitraan, serta konsistensi pembangunan.
“Pembelajaran dari kemajuan teknologi Tiongkok bukan hanya kemampuan mengubah sampah menjadi energi, tetapi juga bagaimana pendidikan, penelitian, kemitraan, dan konsistensi pembangunan dapat menghasilkan kemandirian industri,” imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














