Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah melibatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) dalam program pengolahan sampah. TNI AD akan mengolah sampah menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar melalui skema teknologi pirolisis.
Uji coba proyek atau pilot project fasilitas pirolisis berlokasi di Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. Pabrik pirolisis ini akan bersinergi dengan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Kota Bekasi. PSEL akan mengolah sampah baru, sedangkan fasilitas pirolisis akan mengolah sampah lama yang sudah menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Maruli Simanjuntak menyatakan bahwa keterlibatan TNI AD merupakan tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo Subianto agar seluruh jajaran berperan aktif mengatasi persoalan sampah yang telah menjadi tantangan nasional. Maruli menargetkan fasilitas pirolisis akan bisa mengolah sampah dengan volume 1.000 per hari atau lebih, tergantung dari luas lahan dan kapasitas pabrik.
Baca Juga: PSEL Kota Bekasi Senilai Rp 3 Triliun Mulai Dibangun, Olah Sampah 1.500 Ton per Hari
Pembangunan fasilitas pirolisis membutuhkan lahan sekitar 5 hektare dengan fasilitas pre-treatment yang memerlukan lahan minimal setengah hektare. Menurut Maruli, pengolahan sampah menjadi solar melalui pirolisis bukanlah teknologi baru, sehingga bisa cepat untuk diterapkan.
"Jadi sebetulnya, kalau disampaikan tentang pirolisis, saya kira sudah familiar dimana-mana. Kami merencanakan kalau lahannya cukup, minimal bisa 1.000 ton per hari. Kalau pre-treatment bisa dapat lebih besar, bisa sampai 1 hektare, atau pengolahannya bisa lebih dari 5 hektare, mungkin bisa kejar sampai 2.000 ton per hari di setiap tempat," ungkap Maruli saat menghadiri Peresmian Pembangunan PSEL Kota Bekasi pada Rabu (26/8/2026).
Maruli mengungkapkan, saat ini sudah ada lima lokasi di empat kota/kabupaten yang siap menjadi lokasi fasilitas pirolisis. Mencakup Bekasi untuk mengolah sampah di TPA Bantar Gebang dan TPA Sumur Batu, Bogor yang berlokasi di Galuga, Bandung Barat (Sari Mukti) dan Semarang (Jatibarang).
Maruli mengakui masih ada sejumlah kendala yang dihadapi untuk merealisasikan pengolahan sampah melalui pirolisis. Tantangan utamanya adalah dari sisi penyiapan lahan dan perizinan. "Jadi intinya kalau ini sudah bisa diselesaikan, mungkin satu tahun pabrik-pabrik ini bisa jalan," ungkap Maruli.
Adapun, fasilitas pirolisis ini akan dibangun bersama mitra melalui skema Badan Usaha Pelaksana Proyek (BUPP). Penandatanganan Kesepakatan Bersama antara Pemerintah Kota Bekasi dan BUPP Pirolisis dilakukan berbarengan dengan Peresmian Pembangunan PSEL Kota Bekasi pada Rabu (26/8/2026).
Dalam kesempatan tersebut turut hadir Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Pria yang akrab disapa Zulhas ini mengungkapkan bahwa penanganan masalah sampah akan dilakukan dengan berbagai skema dan teknologi.
Baca Juga: PLN Siap Serap Listrik PSEL Legok Nangka, Dukung Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Dalam paparannya, pemerintah memproyeksikan timbulan sampah akan mencapai 146.780 ton per hari pada tahun 2029. Program PSEL ditargetkan akan mengatasi sebanyak 22,5%, khususnya sampah perkotaan dan aglomerasi.
Selain PSEL, pemerintah menggelar program pengolahan sampah organik dari sumber, Tempat Pengolahan Sampah (TPS) - 3R (Reduce, Reuse, Recycle) atau Bank Sampah Induk, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) - Refuse Derived Fuel (RDF), serta TPST Non-RDF atau Pirolisis.
Adapun, program TPST non-RDF, termasuk pirolisis diproyeksikan akan bisa mengolah sekitar 20% sampah. "Kalau kita kerja bersama, InsyaAllah 2029, 70% - 75% (masalah sampah) bisa kita selesaikan," kata Zulhas.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyambut program pengolahan sampah melalui PSEL maupun pirolisis. Program tersebut diharapkan bisa membantu menuntaskan permasalahan sampah di Jawa Barat. Khususnya di wilayah perkotaan, yakni di Bekasi Raya, Bogor Raya dan Bandung Raya.
Dedi menyatakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat siap memberikan dukungan, termasuk untuk membiayai sewa lahan hingga 30 tahun ke depan. "Kami menyambut, dengan harapan ke depan rakyatnya berkesadaran untuk tidak membuang sampah dimana saja, disiapkan tempat sampah di rumahnya masing-masing, sampahnya terkelola dari tingkat rumah tangga," kata Dedi.
Danantara Indonesia juga siap mendukung program pengolahan sampah melalui pirolisis. Hanya saja, Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir belum membeberkan secara rinci bentuk dukungan yang akan diberikan oleh Danantara.
"Itu nanti kami lihat. Itu bagusnya (mengolah) sampah lama. Kami kan banyak sampah baru (yang akan diolah Danantara melalui PSEL). Tadi kan presentasinya Pak Menko sudah bilang, PSEL itu hanya (mengatasi sampah) 22,5% dari seluruhnya. Jadi ini semua harus saling kerja sama," ungkap Pandu.
Baca Juga: PLN Siapkan Kontrak Jangka Panjang Proyek PSEL, Durasi Jual-Beli Listrik 30 Tahun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














