Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan pelemahan nilai tukar rupiah memberi tekanan signifikan terhadap industri alat berat. Kondisi ini tidak hanya menggerus margin usaha, tetapi juga menahan laju investasi pelaku usaha di sektor tersebut.
Presiden Direktur PT Multicrane Perkasa Adrianus Hadiwinata mengatakan, dampak utama dirasakan pada dua sisi sekaligus, yakni profitabilitas dan keputusan belanja modal alias capital expenditure (capex).
"Kenaikan harga BBM meningkatkan biaya operasional sehingga margin usaha berkurang, sementara pelemahan rupiah membuat harga alat berat dan suku cadang yang mayoritas impor ikut naik," ujar Adrianus kepada Kontan, Rabu (29/4/2026).
Baca Juga: Relaksasi Bea Masuk Bahan Baku Plastik Jadi Angin Segar Industri Kosmetik
Menurut Adrianus, kombinasi tekanan tersebut membuat pelaku usaha cenderung lebih konservatif. Banyak perusahaan memilih menahan atau menunda pembelian unit baru, sehingga tekanan tidak hanya terjadi di sisi investasi, tetapi juga pada biaya operasional (opex) yang berjalan setiap hari.
Dari sisi beban usaha, Adrianus menilai tekanan terbesar berada pada operasional harian. Pasalnya, BBM merupakan komponen utama dalam penggunaan alat berat, sehingga setiap kenaikan harga langsung meningkatkan biaya produksi.
“Dalam konteks ini, tekanan terbesar memang ada di belanja operasional yang terus berjalan, sementara bagi pelaku usaha secara umum, kondisi ini memaksa mereka untuk lebih fokus pada efisiensi dan pengendalian biaya operasional,” jelasnya.
Adapun porsi BBM dalam struktur biaya produksi dinilai cukup besar, meskipun bervariasi tergantung jenis industri, tipe alat, dan pola operasional masing-masing perusahaan. Namun secara umum, BBM tetap menjadi salah satu komponen biaya utama dalam operasional alat berat.
Seiring dengan meningkatnya tekanan biaya, pelaku industri juga mulai mempertimbangkan penyesuaian harga. Adrianus menyebut, kenaikan tarif jasa atau harga produk dalam rupiah menjadi langkah yang sulit dihindari.
Baca Juga: Mencermati Pendekatan Baru Industri Digital Marketing
“Dengan mayoritas komponen masih bergantung pada impor, penyesuaian harga menjadi langkah yang sulit dihindari agar perusahaan tetap dapat menjaga keberlangsungan dan kesehatan bisnisnya," tambahnya.
Ia menambahkan, tanpa penyesuaian tersebut, pelaku usaha berisiko mengalami penurunan kinerja keuangan yang lebih dalam di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













