kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Kejar Target Ekspor Manufaktur 30%, Industri Baja Minta 6 Dukungan Kebijakan


Minggu, 14 Juni 2026 / 18:56 WIB
Kejar Target Ekspor Manufaktur 30%, Industri Baja Minta 6 Dukungan Kebijakan
ILUSTRASI. Peningkatan ekspor manufaktur butuh strategi terencana. (Dok/IST)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri baja nasional menyatakan siap mendukung target pemerintah untuk meningkatkan porsi ekspor manufaktur dari 20% menjadi 30% dari total penjualan industri nasional.

Namun, pelaku industri menilai diperlukan sejumlah dukungan kebijakan agar target tersebut dapat tercapai secara optimal.

Ketua Umum Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengungkapkan, pihaknya menyambut positif target tersebut karena mencerminkan komitmen pemerintah dalam memperkuat daya saing industri nasional, khususnya sektor hilirisasi besi dan baja, serta memperluas penetrasi produk Indonesia ke pasar global.

“Dari sisi industri baja, kapasitas produksi nasional masih memiliki ruang untuk mendukung peningkatan produksi, khususnya untuk kebutuhan ekspor,” ujar Harry kepada Kontan, Minggu (14/6/2026).

Baca Juga: Target Ekspor Manufaktur 30% Butuh Perbaikan Daya Saing

Menurutnya, peningkatan penjualan ekspor dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengoptimalkan utilisasi industri baja nasional sekaligus memperkuat efisiensi operasional secara keseluruhan.

Meski demikian, Harry mengingatkan peningkatan ekspor perlu dilakukan secara terencana dengan fokus pada produk-produk bernilai tambah tinggi. Selain itu, kebutuhan pasar domestik juga tetap harus menjadi prioritas utama.

“Ekspor harus dilakukan secara terukur dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan dalam negeri yang masih menjadi prioritas,” katanya.

Untuk mendukung peningkatan ekspor manufaktur, IISIA menilai pemerintah perlu memperkuat sejumlah kebijakan strategis. Pertama, penguatan instrumen perlindungan perdagangan guna menghadapi praktik dumping dan lonjakan impor yang berpotensi merugikan industri nasional.

Kedua, peningkatan efisiensi logistik dan infrastruktur pelabuhan untuk menekan biaya distribusi ekspor maupun impor bahan baku.

Ketiga, dukungan terhadap transformasi industri hijau melalui insentif investasi, akses pembiayaan, serta pengembangan teknologi rendah karbon. Langkah ini dinilai penting agar produk baja Indonesia tetap kompetitif di pasar global yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan.

Keempat, pemerintah perlu memperluas perjanjian perdagangan internasional dan memperkuat diplomasi ekonomi guna membuka akses pasar baru sekaligus mengurangi hambatan tarif maupun non-tarif di negara tujuan ekspor.

Baca Juga: Hemat Rp 356 Juta Per Tahun, PNRE Bikin Pembangkit Surya 15,5 kWp di Kapal Minyak

Selain itu, Harry juga menyoroti pentingnya konsistensi harga energi, terutama implementasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang dinilai masih belum merata dan konsisten di berbagai sektor industri.

“Stabilitas dan kepastian harga energi menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing industri baja nasional,” ujarnya.

IISIA juga mendorong pemerintah memberikan insentif ekspor, baik dalam bentuk insentif perpajakan maupun skema pembiayaan dengan suku bunga khusus untuk eksportir. Menurut Harry, kebijakan tersebut dapat memberikan dorongan langsung terhadap daya saing produk nasional di pasar internasional.

Dengan dukungan kebijakan yang tepat, Harry optimistis industri baja nasional tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pembangunan domestik, tetapi juga menjadi salah satu kontributor utama dalam pencapaian target peningkatan ekspor manufaktur Indonesia.

“Industri baja berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan mendukung target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan pemerintah,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×